Amerika dan Nato vs Rusia Dalam Perang Ukraina, Lavrov Ingatkan Kembali Tak Remehkan Resiko Perang Nuklir

Sampai sekarang perang di Ukraina masih berkecamuk. Banyak proxy terlibat dalam perang ini, mulai dari Amerika Serikat sampai Pakta Pertahanan Antlantik Utara (NATO).

Muhammad Taufiq
Selasa, 26 April 2022 | 11:05 WIB
Amerika dan Nato vs Rusia Dalam Perang Ukraina, Lavrov Ingatkan Kembali Tak Remehkan Resiko Perang Nuklir
Patroli tentara Rusia di Mariupol Ukraina. (Foto: AFP)

SuaraJatim.id - Sampai sekarang perang di Ukraina masih berkecamuk. Banyak proxy terlibat dalam perang ini, mulai dari Amerika Serikat sampai Pakta Pertahanan Antlantik Utara (NATO).

Dengan banyaknya proxy terlibat, terutama Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pun memperingatkan Barat untuk tidak meremehkan risiko perang nuklir atas Ukraina.

Dalam wawancara di televisi pemerintah, Lavrov juga mengatakan bahwa inti dari setiap perjanjian untuk mengakhiri konflik di Ukraina akan sangat bergantung pada situasi militer di lapangan.

Lavrov ditanya tentang pentingnya menghindari perang dunia ketiga dan apakah situasi saat ini bisa dibandingkan dengan krisis rudal Kuba pada 1962, salah satu masa terburuk dalam hubungan AS-Soviet.

Baca Juga:IMF: Ekonomi Asia Terancam Melambat Dampak Perang dan Situasi Industri China

Rusia melakukan banyak hal untuk menjunjung prinsip-prinsip dalam upaya mencegah perang nuklir dengan cara apa pun, kata dia.

"Ini posisi penting kami yang mendasari segalanya. Risikonya kini cukup besar," kata Lavrov, seperti dikutip dari Antara, Selasa (26/04/2022).

"Saya tidak akan mau meningkatkan risiko itu secara sengaja. Banyak orang akan seperti itu. Bahayanya serius, nyata. Dan kita tak boleh meremehkannya."

Invasi Rusia di Ukraina yang telah berlangsung 2,5 bulan telah membuat ribuan orang tewas dan terluka, menghancurkan kota dan desa, dan memaksa 5 juta orang mengungsi ke luar negeri.

Moskow menyebut aksinya itu sebagai "operasi khusus" untuk melucuti Ukraina dan melindungi negara itu dari kaum fasis. Ukraina dan Barat mengatakan hal itu hanyalah dalih Presiden Vladimir Putin untuk melakukan agresi tak berdasar.

Baca Juga:Gegara Perang Rusia-Ukraina, Babi Hutan di Jerman Bernama Putin Ganti Nama

Membela tindakan Moskow, Lavrov juga menyalahkan Washington atas minimnya dialog.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini