Penyebab-penyebab masuknya lagi PMK di Kabupaten Ponorogo, kata Masun, yang pertama karena longgarnya lalu lintas ternak saat natal dan tahun baru (nataru) awal tahun 2023. Padahal waktu itu, kondisi PMK di provinsi sebelah sedang menunjukkan tren yang meningkat.
Sehingga membuat wilayah perbatasan termasuk Kabupaten Ponorogo menjadi rentan terkena imbasnya. Sebab, lalu lintas ternak pada waktu itu atau saat nataru itu longgar.
"Laporan kasus PMK yang pertama di Desa Munggung itu, kita cek ke peternaknya bahwa yang bersangkutan baru mendatangkan sapu dari luar daerah," ungkap Masun.
Kemudian penyebab kedua, kedatangan ternak-ternak dari luar daerah dan masuk ke Kabupaten Ponorogo itu, dalam kondisi belum divaksin PMK. Sehingga ternak tersebut mudah atau rentan untuk tertular PMK.
Baca Juga:Sempat Landai, Wabah PMK di Ponorogo Merebak Lagi 239 Sapi Terjangkit
Bahkan, bisa jadi ternak-ternak dari luar daerah ini, masuk ke Ponorogo mulai ada gejala PMK. "Jadi ternak-ternak dari luar daerah yang masuk Ponorogo, tidak ada riwayat vaksin PMK-nya," katanya.
Penyebab selanjutnya, adalah ternak-ternak yang sudah lama di Kabupaten Ponorogo. Meski tidak dari luar kota, ternak-ternak ini akhirnya juga tertular PMK.
Sebab, ternak yang lama di Ponorogo dan baru terkena PMK ini, dikarenakan belum divaksin. Jadi ada peternak yang menolak ternaknya untuk divaksin oleh petugas dari Dispertahankan Kabupaten Ponorogo.
"Misalnya di Kecamatan Bungkal itu paling tinggi penolakan vaksinnya. Sekarang disana yang paling banyak kasus PMK-nya, ada sekitar 60 ekor sapi yang terkena," ujar Kepala Dispertahankan Kabupaten Ponorogo ini.
Baca Juga:Keren dan Bangga, Kesenian Reog Ponorogo Membuat Banyak Orang Terpukau di Belgia