- BPS Jawa Timur mencatat inflasi sebesar 1,43 persen pada Mei 2026 akibat lonjakan harga komoditas pangan dan transportasi udara.
- Kenaikan inflasi dipicu mahalnya harga bumbu dapur, bahan baku impor, serta peralatan elektronik di berbagai wilayah Jawa Timur.
- Kota Surabaya mengalami kenaikan harga tertinggi, sedangkan harga emas dan beberapa komoditas protein mengalami penurunan pada periode tersebut.
SuaraJatim.id - Warga Jawa Timur harus ekstra ketat mengencangkan ikat pinggang sepanjang Mei 2026. Perpaduan antara naiknya tarif angkutan udara dan melonjaknya harga komoditas dapur telah mendorong inflasi merangkak naik 1,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, terjadi pergeseran Indeks Harga Konsumen (IHK) yang cukup signifikan, dari 108,06 pada Mei tahun lalu menjadi 111,83 di tahun ini. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik angka-angka tersebut?
Inflasi kali ini tidak muncul begitu saja dari lapak pasar. Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengungkapkan adanya tekanan dari sisi industri.
Kenaikan harga bahan baku impor dan melonjaknya harga produk berbahan plastik ternyata memberikan efek domino yang tak terduga.
Baca Juga:Transformasi Warga Jawa Timur yang Kini Kian Melek Cuan di Pasar Modal
"Tekanan ini merembet ke berbagai sektor, mulai dari harga peralatan elektronik hingga air minum kemasan yang sehari-hari kita konsumsi," ungkap Herum dalam konferensi pers di Surabaya, Selasa (2/6/2026).
Jika bicara soal pemicu utama, kelompok bumbu dapur tetap menjadi utama. Cabai merah mencatatkan rekor inflasi paling fantastis, yakni menembus 31,93 persen.
Disusul oleh bawang merah (11,5 persen) dan cabai rawit (10,02 persen). Terbatasnya pasokan di lapangan dituding menjadi biang kerok di balik harga yang semakin pedas ini.
Tak hanya di pasar, di bandara pun situasinya serupa. Harga tiket pesawat terbang tinggi dengan inflasi sebesar 5,04 persen, menjadi penyumbang andil inflasi yang cukup besar bagi Jawa Timur.
Meski banyak harga yang meroket, masyarakat setidaknya bisa sedikit bernapas lega di sektor lain. Bagi Anda yang berencana berinvestasi atau berbelanja protein, ada kabar baik.
Baca Juga:SPMB Jatim 2026 Dimulai! Ini Cara Ambil PIN Agar Tak Gagal Seleksi
Harga emas perhiasan justru melandai (deflasi 3,09 persen). Begitu pula dengan harga telur dan daging ayam ras yang cenderung turun karena stok yang melimpah meskipun minat beli masyarakat sedang lesu.
Secara regional, seluruh 11 kabupaten/kota di Jawa Timur tak luput dari inflasi. Surabaya menjadi kota dengan kenaikan harga paling tinggi, yakni mencapai 0,37 persen. Sementara itu, warga Kota Probolinggo boleh sedikit lega karena mencatatkan inflasi terendah, hanya di angka 0,03 persen. Dengan capaian ini, inflasi tahunan (yoy) Jawa Timur kini berada di angka 3,49 persen. (ANTARA)