- Sebanyak 666 santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis pada Kamis, 3 September 2026.
- Alumni ponpes memprotes sikap SPPG Kalitengah yang tidak berempati, tidak meminta maaf, dan terkesan menyalahkan pihak pesantren.
- Dinkes Sidoarjo mencatat 581 santri telah pulang, 77 dirawat inap, dan enam santri masih dalam tahap observasi ketat.
SuaraJatim.id - Sebanyak 666 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, bertumbangan setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan.
Kini muncul gejolak yaitu protes keras dari para alumni ponpes atas sikap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah yang dinilai tak berempati.
Bukan hanya karena dugaan kualitas makanan yang buruk, tetapi juga karena sikap dingin SPPG dalam merespons musibah yang menimpa ratusan generasi penerus bangsa ini.
Data terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo hingga Kamis malam (3/9/2026) sangat mengkhawatirkan. Sebanyak 666 santri terverifikasi menjadi korban.
Baca Juga:Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS
Meski 581 santri telah diperbolehkan pulang, 77 lainnya masih harus berjuang di ranjang rawat inap, dan enam santri masih dalam observasi ketat.
Namun, bagi para alumni, kesembuhan fisik barulah setengah dari perjuangan. Ada luka lain yang lebih sulit disembuhkan yakni trauma mental.
"Anak-anak itu sekarang takut sekali. Mereka bertanya-tanya, kalau kembali ke pondok, apakah akan terjadi hal yang sama lagi?" ungkap Nahwan Masudi, perwakilan alumni Ponpes Manbaul Hikam, Jumat (4/9/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Menurut Nahwan, bayang-bayang rasa mual, pusing berat, dan muntah massal menyisakan ketakutan mendalam bagi santri untuk kembali ke lingkungan pesantren.
Yang membuat barisan alumni meradang bukan sekadar insiden keracunannya, melainkan dugaan sikap SPPG Kalitengah yang seolah lempar batu sembunyi tangan.
Baca Juga:Wagub Jatim: Biaya Pengobatan Korban Dugaan Keracunan MBG Ditanggung Negara
Hingga hari ini, pihak penyedia makanan tersebut dilaporkan belum menyampaikan permintaan maaf, baik secara lisan maupun tulisan.
Lebih menyakitkan bagi pihak pesantren, muncul pernyataan dari pihak SPPG yang justru terkesan menyalahkan pihak internal pondok atas insiden tersebut.
"Kami sangat kecewa. Pihak terkait tidak mengakui kesalahan dan tidak pernah datang ke pesantren untuk minta maaf. Ini memicu spekulasi liar di masyarakat seolah-olah pihak pondok yang salah. Di mana rasa tanggung jawabnya?" tegas Nahwan, yang juga merupakan pengurus GP Ansor Sidoarjo.
Bagi para alumni, nama baik Manbaul Hikam adalah harga mati. Selama ini, pesantren tersebut dikenal sebagai lembaga yang amanah dan terpercaya. Jika kasus ini dibiarkan mengambang tanpa kejelasan tanggung jawab dari pihak SPPG, kepercayaan wali santri dipertaruhkan.
"Kami meminta SPPG Kalitengah segera bersikap jujur, bertanggung jawab, dan meminta maaf secara terbuka kepada pihak pondok, santri, dan keluarga korban," tuntut Nahwan.