SuaraJatim.id - Puluhan warga Desa Watu Bonang Kecamatan Badegan yang eksodus ke Malang, terancam tidak bisa menggunakan hak pilih pada 17 April 2019.
Penyebabnya, warga yang eksodus tersebut tidak melaporkan tentang pindah pilih atau A5 kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ponorogo, Jawa Timur.
"KPU Ponorogo belum ada laporan tentang pindah pilih untuk warga Watu Bonang yang pindah ke Malang,” kata Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Ponorogo Munajat seperti dilansir Beritajatim.com - jaringan Suara.com, Selasa (19/3/2019).
Padahal, KPU Ponorogo, menurut Munajat, sudah melakukan sosialisasi tentang pindah pilih ini sejak jauh-jauh hari. Termasuk tata caranya.
Untuk mengurusnya kata Munajat juga sangat simpel. Warga yang ingin pindah pilih hanya menggunakan identitas KTP elektronik.
Setelah itu pihak KPU mengecek apa warga tersebut sudah masuk dalam DPT atau belum. Kalau sudah ada di DPT baru bisa dilayani.
"Pindah pilih ini bisa diurus di KPU asal ataupun di KPU tempat tujuan pindah pilih," katanya.
Untuk mengurus form A5 untuk pindah TPS, Munajat mengatakan, ditenggat waktu hingga 17 Maret 2019 pukul 16.00.
Sampai waktu yang telah ditentukan itu, KPU Ponorogo belum mendapat laporan perihal pengurusan A5 oleh puluhan warga desa Watu Bonang yang eksodus ke Malang.
Baca Juga: Cuitan soal Puasa Dikritik Hanum Rais, Cak Imin: Slow Wae Mbak
"Kalau pengin menggunakan hak pilihnya, ya harus pulang. Mencoblos di desanya saja karena waktu pengerusan A5 atau pindah pilih sudah ditutup," katanya.
Perlu diketahui KPU Ponorogo untuk tahap 1 mencatat ada 589 warga Ponorogo yang mengajukan A5. Sedangkan 2642 warga yang mengajukan pindah pilih memilih di Ponorogo.
Mayoritas pindah pilih ke Ponorogo ini adalah pelajar dari beberapa pondok pesantren.
"Pindah pilih ini akan berpotensi naik, karena ada tahap II yang rencananya akan diplenokan pada besok tanggal 20 Maret 2019," ujarnya.
Untuk diketahui, isu kiamat yang sempat viral beberapa waktu lalu menyebabkan 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo pergi dari desanya.
Warga tersebut pergi menuju salah satu pondok pesantren yang ada di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Berita Terkait
-
Isu Kiamat Sampai di Jateng, Warga Wonogiri Berencana Hijrah ke Malang
-
Di Depan Tokoh Masyarakat, Jokowi: Jangan Biarkan Satu Orangpun Golput!
-
Jual Rumah Rp 35 Juta karena Isu Kiamat, Nanik Sesali Tindakan Sang Anak
-
Ketakutan Isu Kiamat, Pasutri Rela Jual Motor hingga Tebok Tabungan
-
Katimun Hanya Sampaikan ke Jamaah Soal Tanda-tanda Akhir Zaman
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Survei IndocPolls: Seskab Teddy Teratas, Nusron Wahid Dapat Penilaian Terendah
-
BRI Salurkan Kredit Rp1.645,5 Triliun dan Perkuat Pembiayaan UMKM
-
Obral Akun WA Rp500 Perak, Hacker Asal Krian Raup Rp100 Juta untuk Promosi Judol Kamboja
-
Modus Stempel Palsu & Belanja Fiktif: Ketua dan Bendahara KONI Pasuruan Dijebloskan ke Penjara
-
Dibuang di Teras Toko Beralas Selimut Pink, Bayi 3 Hari di Bangkalan Buat Hati Bu Kades Meleleh