SuaraJatim.id - Gunung Semeru dilaporkan meletus pada 29 November 2020. Meski demikian, hal itu diklaim masih wajar dengan status level II (waspada) pada gunung berketinggian 3.676 mdpl tersebut.
Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Nia Haerani mengatakan, aktivitas letusan pada gunung berapi aktif dinilainya normal terjadi.
Berdasarkan catatan PVMBG, sepanjang 2020 paling panjang jarak luncur lava pijar sejauh 2,5 kilometer terjadi pada pada Mei 2020. Sementara yang terjadi kemarin lava pijar meluncur lebih pendek.
"Sedangkan kemarin (29/11/2020) itu jarak luncur (lava) 1 kilometer, relatif lebih pendek," ujarnya dihubungi suara.com, Senin (30/11/2020).
Maka, lanjut dia, aktivitas vulkanis Gunung Semeru yang terpantau pada 29 November diklaim masih pada level aman.
"Levelnya tidak ada peningkatan aktivitas menuju ancaman bahaya lebih tinggi, sehingga levelnya tetap sesuai rekomendasi kami, yakni level II waspada," katanya.
Dijelaskan Nia, antara meletus atau letusan dengan erupsi itu memiliki pengertian sama. Erupsi merupakan istilah umum, yakni gejala atau fenomena adanya material dari perut bumi yang keluar ke permukaan melalui gunung api, bisa batuan, gas termasuk lava.
Letusan atau erupsi dibagi dua kategori, yakni efusif dan eksplosif. Efusif adalah keluarnya material namun tidak disertai letusan, atau meleleh saja. Sedangkan eksplosif, disertai letusan atau lontaran material.
"Semeru ada dua karakteristik (erupsi) itu," ujarnya menegaskan.
Baca Juga: Gunung Semeru Meletus, Pendakian Ditutup Total
Terpisah, Sekretaris BPBD Kabupaten Malang Bagyo meminta masyarakat tetap tenang menyikapi aktivitas Gunung Semeru.
Bahwa memang ada guguran lava pijar yang berpotensi terjadinya Awan Panas Guguran (APG). Hal itu terjadi karena adanya lidah lava yang tidak stabil karena gravitasi.
"Namun sejauh ini radius APG masih aman karena jaraknya 1 kilometer, sedangkan pada status waspada jarak aman berada pada 4 kilometer," katanya menegaskan.
Meski masih relatif aman, lanjut Bagyo, masyarakat, khususnya penambang yang berada di sekitar DAS ( Daerah Aliran Sungai), mulai Sungai Besuk kobokan, Besuk kembar, Besuk bang, Besuk Sarat, agar selalu meningkatkan kewaspadaan yang tinggi.
"Karena bahaya bisa sewaktu-waktu terjadi," ujarnya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat tak mudah menyimpulkan situasi dari informasi yang belum jelas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
- Mitchell Baker Cetak 3 Gol dari 4 Laga Bakal Dipanggil John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026?
- KGPAA Mangkunegara X Akan Tinggalkan Mangkunegaran untuk Kuliah S2 di London
Pilihan
-
516 Korban Keracunan, Bupati Sidoarjo Ultimatum BGN Soal Perizinan: Ini Harus Tegas!
-
Kabar Gembira! Mulai 2027 Guru PPPK Paruh Waktu Resmi Diangkat Jadi Penuh Waktu
-
KPK Geledah Perusahaan Tambang Terkait Kasus Pajak Banjarmasin, Nama Adaro Ikut Terseret
-
Terbuang dari Klub Orang Indonesia, Emil Audero Selangkah Lagi ke Rayo Vallecano
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
Terkini
-
516 Korban Keracunan, Bupati Sidoarjo Ultimatum BGN Soal Perizinan: Ini Harus Tegas!
-
Persebaya Makin Intens Jelang Debut Super League, Ini Kata Yuran Fernandes
-
Tas Isi Emas Rp1 Miliar Dijambret Saat Juragan Asyik Main Catur di Bangkalan
-
Ratusan Santri Keracunan MBG di Sidoarjo: Tim Pusat Turun Gunung, Nasib SPPG di Ujung Tanduk
-
431 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, YLBHI Desak Audit Independen