Fortifikasi yaitu penambahan zat, mineral dan vitamin dalam produk pangan yang sudah jadi. Contohnya garam yodium hingga susu fortifikasi yang ditambahkan zat besi, vitamin C, vitamin A dan sebagainya.
Dr. Ray mengatakan zat besi jadi salah satu mikronutrien yang paling mudah difortifikasi, salah satunya melalui susu pertumbuhan seperti SGM Eksplor. Apalagi format susu ini juga tetap berbentuk pangan yang dikonsumsi sehari-hari, sehingga mudah diserap tubuh anak dibanding suplemen.
“Idealnya zat gizi mikro masuk berbarengan dengan makanan. Kalau pada anak-anak zat besi itu sudah banyak penelitiannya paling gampang difortifikasi pada salah satunya susu pertumbuhan. Kenapa? Bioavailitas (jumlah yang diserap tubuh) tinggi banget. Jadi yang masuk lewat susu pertumbuhan, akan lebih banyak diserap tubuh daripada dibuang,” ungkap Dr. Ray.
Lelaki yang juga Pengajar Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu juga mengingatkan cara kerja zat gizi mikro atau mikronutrien cenderung keroyokan, sehingga jika ada satu saja zat yang kurang alias tidak lengkap maka penyerapannya di tubuh menjadi tidak maksimal.
“Ini karena zat gizi mikro kerjanya barengan alias keroyokan. Contoh zat besi butuh vitamin C butuh vitamin A, juga ada zinc dan lain-lain. Lewat susu pertumbuhan, itu udah ada penelitian bahwa kalau vitamin C-nya ditambahin zat besi itu lebih bagus bioavailitasnya (penyerapannya) kendaraanya sudah jalan dengan baik, nempel dengan bagus di hemoglobin,” papar Dr. Ray.
Bukan cuma susu pertumbuhan yang difortifikasi, Danone Indonesia juga berinovasi lewat program binaan budidaya padi sehat hasil kerjasama dengan Pandawara Agri dan Bulog, yaitu menginisiasi penanaman padi biofortifikasi untuk mengatasi gap alias celah masyarakat Indonesia kekurangan zat besi. Khususnya mencegah ibu hamil kekurangan zat besi yang memicu anemia hingga melahirkan anak stunting.
Berbeda dengan pangan fortifikasi, di mana zat gizi mikro ditambahkan setelah bahan pangan jadi. Sedangkan biofortifikasi yaitu zat, mineral hingga vitamin diserap bersama dengan proses pertumbuhan bahan pangan tersebut.
Contohnya, beras biofortifikasi ditanam dalam bentuk bibit padi yang akan ditanam, sudah lebih dulu mengandung nutrisi dan mineral seperti zinc (seng) hingga zat besi.
"Sekarang banyak diteliti dan terbukti efektif namanya biofortifikasi. Jadi bukan berasnya yang udah jadi, begitu jadi padi, begitu mulai dibenihkan, benihnya itu yang difortifikasi. Ini namanya biofortifikasi, jadi lebih natural alami dan tidak merusak siklus tanam," ujar Dr. Ray.
Perwakilan Pandawara Agri, Wahyudi dalam acara penanaman padi biofortifikasi oleh peserta Jelajah Gizi 2024 dan talkshow di Desa Benelan Kidul, Banyuwangi mengungkap jika padi biofortifikasi memiliki sederet keunggulan untuk kesehatan.
Contohnya padi biofortifikasi mengandung 3 kali zinc (seng) lebih banyak yakni sebesar 9,62 ppm (bagian per sejuta), rendah pestisida 50 persen sehingga lebih rendah residu alias cemaran pada beras, hingga lebih efisien karena hemat air hingga 49 persen dibanding lahan sawah yang ditanami padi varietas lain.
"Paling penting uji coba varian beras biofortifikasi ini bukan hanya kandungan zinc 3 kali lebih tinggi dari varian lainnya. Padi fortifikasi ini juga memiliki kandungan nutrisi 3 kali lebih tinggi dari jenis padi yang dimiliki petani di sini," ujar Wahyudi.
Apalagi data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 21,6 persen. Sementara Riskesdas 2018 mencatat 1 dari 3 anak Indonesia mengalami anemia.
Namun Dr. Ray mengingatkan tidak semua produk pangan bisa difortifikasi. Ini karena kata dia, syarat fortifikasi bisa dilakukan hanya pada produk pangan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Adapun selain beras, beberapa produk yang wajib difortifikasi di Indonesia yaitu garam ditambah yodium, terigu ditambah zat besi, seng, asam folat, vitamin B1 dan B2 hingga minyak goreng dengan vitamin A.
"Syarat fortifikasi itu format makanannya yang banyak dikonsumsi orang, tujuannya apa? Supaya zat gizi mikro seperti vitamin mineral itu gampang kekurangan bisa terpenuhi, karena masuk bersamaan dengan konsumsi sehari-hari," papar Dr. Ray.
Berita Terkait
-
Jelajah Gizi 2024: Keberhasilan Edukasi Asupan Balita, Ikan Lemuru Banyuwangi Miliki Kandungan Gizi Setara Salmon
-
Cak Imin Sentil Wacana Impor Sapi Prabowo: Jangan Tiba-tiba Bikin Program yang Untungkan Importir
-
Viral Bocah SD Diejek Guru Gegara Bawa Lauk Ulat Sagu, Ternyata Ini Kandungan Gizinya
-
Perusahaan Rintisan Grouu Ekspansi ke Pasar Makanan Anak di Surabaya
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
Mantri BRI, Garda Terdepan Layanan Perbankan di Toraja Utara
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Duel Berdarah di Sampang: Tak Terima Ibu Dipacari Lansia, Anak Nekat Carok
-
Warga 4 Desa Melawan Penutupan Akses Bendungan Lahor
-
Lutung Jawa Dipelihara Warga di Bondowoso Dievakuasi, Kini Jalani Rehabilitasi