Wakos Reza Gautama
Jum'at, 17 April 2026 | 09:52 WIB
Ilustrasi penemuan kerangka manusia di Taman Nasional Baluran. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Warga bernama Suwardi yang hilang di kawasan Taman Nasional Baluran sejak 4 April 2026 akhirnya ditemukan tewas.
  • Dua pencari madu menemukan kerangka manusia di Blok Curah Bedi pada Kamis sore, 16 April 2026 lalu.
  • Tim SAR gabungan telah mengevakuasi jasad korban yang teridentifikasi melalui barang bawaan dan pemeriksaan medis pihak keluarga.

SuaraJatim.id - Taman Nasional (TN) Baluran dikenal dengan keindahan sabananya yang eksotis. Namun, di balik rimbunnya pepohonan dan liarnya hutan, tersimpan sisi gelap yang tak jarang menelan korban.

Itulah yang dialami Suwardi (68), warga Dusun Sidomulyo, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, yang jejaknya hilang ditelan rimba sejak 4 April 2026 lalu.

Setelah 12 hari pencarian besar-besaran yang seolah menemui jalan buntu, misteri itu akhirnya terjawab secara tak sengaja oleh dua pasang mata pencari madu.

Kamis sore (16/4/2026), Harianto dan Yuli sedang menyisir Blok Curah Bedi, sebuah area yang terletak sekitar enam kilometer jauh di dalam hutan dari lokasi terakhir Suwardi terlihat.

Alih-alih menemukan sarang lebah, hidung mereka justru menangkap aroma menyengat yang asing di udara hutan yang bersih. Setelah ditelusuri, pemandangan memilukan tersaji di hadapan mereka. Sesosok kerangka manusia.

Di lokasi yang terpencil itu, sebuah tas hitam tergeletak sunyi. Yang paling menggetarkan hati adalah temuan tulang-belulang yang masih terbungkus sepatu, sisa-sisa terakhir dari perjalanan jauh sang lansia yang tak pernah sampai ke rumah.

"Keluarga langsung mengonfirmasi setelah melihat dokumentasi barang-barang di lokasi. Baju, sepatu, hingga handphone, semuanya identik dengan milik korban," ujar Novix Heryadi, Kasubsi Operasi dan Siaga Kantor SAR Banyuwangi dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Proses evakuasi berlangsung dramatis hingga malam hari. Tim gabungan dari Polsek Banyuputih, petugas TN Baluran, BPBD, hingga Tagana harus menembus medan hutan untuk membawa pulang sisa-sisa jasad Suwardi.

Hasil pemeriksaan medis di RS Asembagus menyisakan fakta yang memilukan. Meski struktur tulang ditemukan lengkap dan utuh, kondisi jasad sudah terurai tidak beraturan.

Baca Juga: Pura-pura Izin ke Kamar Mandi, Siswa SMK di Situbondo Malah Hantam Wajah Sang Guru

Tim medis menduga kuat bahwa setelah Suwardi menghembuskan napas terakhir, alam liar menjalankan hukumnya, jasadnya menjadi mangsa binatang liar di jantung hutan.

“Dari kondisi gigi, dipastikan usianya di atas 60 tahun, sesuai dengan identitas korban,” tambah Novix. Proses pembusukan alami di tengah hutan tropis mempercepat hancurnya jaringan tubuh hingga hanya menyisakan kerangka dalam waktu belasan hari.

Bagi keluarga, 12 hari pencarian adalah masa-masa penuh kecemasan yang luar biasa. Namun, ketika kenyataan pahit itu datang dalam bentuk tulang-belulang, mereka memilih untuk memeluk takdir dengan lapang dada.

Sarianto, adik kandung korban, menyatakan bahwa pihak keluarga telah ikhlas. Mereka menolak dilakukan autopsi lebih lanjut agar sang kakak bisa segera diistirahatkan dengan layak di liang lahat. Dengan ditemukannya Suwardi, operasi SAR resmi ditutup.

Load More