Wakos Reza Gautama
Rabu, 22 April 2026 | 16:59 WIB
Ilustrasi UTBK. Sindikat perjokian profesional menyusup dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). [Felicity Tai]
Baca 10 detik
  • Seorang joki berinisial H tertangkap saat ujian UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Surabaya pada Senin, 20 April 2026.
  • Teknologi kecerdasan buatan berhasil mendeteksi identitas palsu pelaku yang menggunakan dokumen kependudukan asli namun telah dimanipulasi secara profesional.
  • Pemerintah menegaskan pelaku kriminal pemalsuan identitas akan didiskualifikasi serta masuk dalam daftar hitam seluruh perguruan tinggi negeri Indonesia.

SuaraJatim.id - Di balik keheningan ruang ujian UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (20/4/2026) lalu, sebuah pertempuran teknologi tingkat tinggi sedang berlangsung secara senyap.

Di satu sisi, ada H (23), seorang joki profesional yang memiliki ketenangan luar biasa. Di sisi lain, ada algoritma Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk menjadi "mata-mata" bagi panitia seleksi.

Hasilnya? Sang joki tumbang. Bukan karena gugup, melainkan karena kecerdasan buatan berhasil mendeteksi kemiripan wajahnya mencapai 95 persen dengan data pendaftar tahun lalu. Kedoknya sebagai "penumpang gelap" di atas kartu identitas palsu pun terkelupas.

Tertangkapnya H membuka kotak pandora betapa rapinya sindikat perjokian nasional beroperasi saat ini. H bukan joki amatir.

Saat diringkus tim supervisi dan kepolisian, ia membawa dokumen fisik yang mampu mengecoh mata manusia yaitu KTP dan ijazah asli namun palsu.

"Hebatnya, ijazah yang dibawa dengan foto yang sudah diganti itu menggunakan stempel basah. Kami verifikasi ke sekolah asal, datanya memang ada, tapi fotonya milik orang lain yang diedit secara profesional," ungkap Wakil Rektor I Unesa, Martadi, Rabu (22/4/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Ketangguhan mental H juga mencengangkan. Selama interogasi, tidak ada keringat dingin atau raut khawatir. Ia tetap konsisten dengan kebohongan yang disusun rapi, seolah-olah ia memang pemilik sah identitas tersebut.

Bahkan, di bagasi motornya, ditemukan tumpukan mika dan blangko kosong siap cetak, sebuah "pabrik" dokumen kependudukan berjalan.

Penyelidikan mendalam mengungkap bahwa H adalah bagian dari gurita jaringan nasional dengan sistem keamanan "putus layer". Ia mengaku direkrut di sebuah kafe dan hanya berkomunikasi dengan satu atasan di luar Jawa Timur. Jika satu tertangkap, jaringan di atasnya tetap aman dan tak terlacak.

Baca Juga: Drama Unesa Ringkus Peserta UTBK yang Nekat Gunakan Ijazah Palsu Demi Kursi Kedokteran

Target mereka tahun ini sangat prestisius yakni kursi di Fakultas Kedokteran salah satu PTN ternama di Jawa Timur. Sebuah target yang sebanding dengan risiko yang mereka ambil.

Namun, taktik sindikat ini tak berhenti di pemalsuan identitas. Panitia kini mengantisipasi penggunaan alat komunikasi mikro.

"Kami menyiapkan petugas perempuan untuk menggeledah hingga ke balik hijab. Ada temuan di tempat lain berupa chip sebesar biji kedelai yang ditanam di telinga untuk memandu jawaban," beber Martadi dengan serius.

Skandal ini sampai ke telinga Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat. Saat memantau langsung di Unesa, ia menegaskan bahwa tidak ada ampun bagi mereka yang mencoba mencurangi sistem.

"Ini bukan sekadar kecurangan ujian, ini tindakan kriminal pemalsuan identitas. Peserta yang terlibat akan didiskualifikasi dan masuk daftar hitam (blacklist) dari seluruh kampus negeri di Indonesia," tegas Atip.

Load More