Wakos Reza Gautama
Jum'at, 01 Mei 2026 | 20:13 WIB
Ratusan warga Blitar Selatan yang tergabung dalam Paguyuban Sopir Truk dan Paguyuban Petani Tebu menunjukkan aksi nyata gotong royong dengan memperbaiki jalan rusak parah secara swadaya di Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Warga Kecamatan Wonotirto, Blitar, memperbaiki jalan rusak sepanjang 15 kilometer secara swadaya pada Jumat, 1 Mei 2026.
  • Para sopir truk dan petani tebu mengumpulkan dana pribadi untuk membeli material guna menambal lubang jalan berbahaya.
  • Aksi gotong royong ini dilakukan untuk memulihkan akses ekonomi dan pariwisata karena penanganan pemerintah dirasa sangat lambat.

SuaraJatim.id - Aspal yang terkelupas dan lubang menganga sedalam kubangan kerbau telah menjadi pemandangan sehari-hari di jalur utama Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar.

Bagi warga setempat, jalan sepanjang 15 kilometer yang menghubungkan Desa Gunung Gede menuju destinasi wisata Pantai Tambakrejo ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi ekonomi yang sudah terlalu lama "sakit" tanpa obat yang memadai.

Namun, Jumat (1/5/2026) menjadi saksi bisu sebuah aksi luar biasa. Tak ada orasi bising atau spanduk protes yang menutup jalan. Yang terdengar justru deru mesin pengaduk semen dan sorak-sorai gotong royong.

Ratusan warga yang tergabung dalam Paguyuban Sopir Truk dan Paguyuban Petani Tebu Blitar Selatan memutuskan untuk mengambil alih tugas yang seharusnya diemban negara yakni memperbaiki jalan secara swadaya.

Inisiatif ini lahir dari rasa jengah yang memuncak. Bayangkan saja, para sopir truk dan petani tebu ini rela merogoh kocek pribadi mereka.

Nilainya tidak main-main untuk ukuran pekerja harian mulai dari Rp150 ribu hingga Rp450 ribu per orang dikumpulkan demi membeli material penambal jalan.

Uang hasil keringat itu mereka belanjakan untuk material guna menutup "lubang maut" yang selama bertahun-tahun merusak armada mereka dan mengancam nyawa setiap kali melintas.

"Ini murni inisiatif warga. Kami sepakat menggalang dana karena kalau menunggu penanganan pemerintah dirasa terlalu lama. Sementara itu, lubang jalan makin parah dan membahayakan keselamatan," ujar Rofi, salah satu tokoh masyarakat setempat dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Aksi heroik ini digerakkan oleh koordinasi apik antara Ketua Paguyuban Sopir Truk, Yudi, dan Ketua Paguyuban Petani Tebu, Mianto. Bagi mereka, membiarkan jalan rusak sama saja dengan membiarkan ekonomi warga mati perlahan.

Baca Juga: May Day Kelabu di Blitar: Saat Keringat Puluhan Tahun Eks Buruh Pabrik Rokok Hanya Berbalas Janji

Biaya operasional armada pengangkut tebu membengkak karena kerusakan mesin, sementara distribusi logistik dan akses pariwisata menjadi tersendat.

“Kami tidak bermaksud membangkang atau merasa tidak butuh pemerintah. Namun, ini adalah solusi cepat. Jalan ini urat nadi ekonomi kami. Kalau lumpuh, warga sendiri yang susah,” tambah Rofi.

Load More