Wakos Reza Gautama
Sabtu, 09 Mei 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi seorang pengajar mengaji berinisial MZ melakukan pelecehan seksual terhadap tujuh santri laki-laki di kawasan Genteng Kali, Surabaya. [IST]
Baca 10 detik
  • Seorang pengajar mengaji berinisial MZ melakukan pelecehan seksual terhadap tujuh santri laki-laki di kawasan Genteng Kali, Surabaya.
  • Tindakan asusila tersebut dilakukan tersangka selama periode tahun 2025 hingga April 2026 saat para korban sedang menginap.
  • Kepolisian telah menangkap tersangka MZ dan bekerja sama dengan DP3A untuk memberikan pendampingan psikologis bagi para korban.

SuaraJatim.id - Seharusnya, sebuah yayasan pendidikan keagamaan menjadi pelabuhan paling aman bagi anak-anak untuk menimba ilmu dan mempertebal iman.

Namun, di sebuah sudut kawasan Jalan Genteng Kali, Surabaya, tembok-tembok bangunan yang biasanya menggandakan suara lantunan ayat suci itu justru menyimpan rahasia kelam yang menyayat hati.

Tujuh anak laki-laki, berusia antara 10 hingga 15 tahun, terpaksa menelan pahitnya dikhianati oleh sosok yang seharusnya mereka teladani.

MZ (22), seorang mahasiswa sekaligus pengajar mengaji yang dipercaya mendidik mereka, kini harus mendekam di balik jeruji besi setelah aksi bejatnya terbongkar.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Luthfie Sulistiawan, mengungkapkan bahwa aksi predator ini dilakukan secara terencana dalam kurun waktu yang cukup lama, yakni sejak tahun 2025 hingga April 2026.

"Korban ada tujuh orang santri laki-laki. Mereka adalah anak-anak yang menaruh kepercayaan besar pada tempat ini," ujar Luthfie di markas Polrestabes Surabaya, Jumat (8/5/2026).

Tragedi ini terjadi di bawah bayang-bayang akhir pekan. Para korban bukanlah santri yang menetap penuh, melainkan anak-anak yang hanya menginap setiap Jumat malam hingga Minggu untuk memperdalam ilmu agama.

Di saat anak-anak lain menikmati waktu istirahat di rumah, para korban justru terjebak dalam skenario jahat sang guru.

Modusnya klasik namun mematikan. Tersangka MZ diduga memanfaatkan kesunyian malam saat para santri terlelap. Dengan langkah senyap, ia menyelinap masuk ke kamar-kamar tempat para bocah ini beristirahat. Di sanalah, di bawah gelapnya malam, MZ melancarkan aksi tidak senonoh demi memuaskan nafsu pribadinya.

Baca Juga: Dijual Rp400 Juta: Horor Penyekapan Warga Jepang di Markas Scamming Surabaya

"Anak-anak ini tidak berdaya. Sebagian bahkan tahu apa yang menimpa rekannya, namun mereka memilih diam karena dicekam ketakutan yang luar biasa," tutur Luthfie.

Kejahatan yang tersembunyi rapat itu akhirnya runtuh berkat keberanian satu orang korban. Laporan pertama yang masuk ke kepolisian bak pembuka kotak pandora.

Satu per satu korban lainnya mulai berani bicara, menceritakan trauma serupa yang mereka pendam dalam-dalam selama berbulan-bulan.

Tak butuh waktu lama bagi korps berseragam cokelat untuk bertindak. Pada Sabtu (16/4/2026), tim kepolisian meringkus MZ di kawasan Genteng Kali.

Pakaian milik korban disita sebagai bukti bisu atas peristiwa yang merenggut masa kecil mereka. Kepada penyidik, sang guru ngaji tak lagi bisa mengelak dan mengakui semua perbuatannya.

Kini, fokus utama bukan hanya pada proses hukum. Luka fisik mungkin tak tampak, namun luka psikologis yang dialami tujuh bocah ini menjadi perhatian serius.

Load More