Wakos Reza Gautama
Senin, 15 Juni 2026 | 08:15 WIB
Ilustrasi SPPG. Badan Gizi Nasional membekukan 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Tulungagung akibat buruknya sarana prasarana serta kasus keracunan. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Badan Gizi Nasional membekukan 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Tulungagung akibat buruknya sarana prasarana serta kasus keracunan.
  • Evaluasi menemukan adanya praktik monopoli oleh oknum penyalur bahan pangan yang membatasi jumlah suplier di bawah ketentuan resmi.
  • BGN mengalihkan layanan pemenuhan gizi ke dapur lain untuk memastikan kesehatan penerima manfaat tetap terjaga selama masa penutupan.

SuaraJatim.id - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah membekukan sementara operasional 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Tulungagung.

Penghentian mendadak ini bukan tanpa alasan. Aroma tidak sedap tercium mulai dari sarana prasarana yang jauh dari kata layak, munculnya kasus keracunan makanan, hingga dugaan praktik monopoli yang dilakukan oknum penyalur bahan pangan.

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam evaluasi ini adalah adanya indikasi main mata dalam rantai pasok. Sesuai aturan BGN, setiap dapur SPPG wajib menggandeng minimal 15 suplier demi menjamin transparansi dan kualitas bahan. Namun, di lapangan, kenyataannya berbanding terbalik.

"Hasil evaluasi menunjukkan ada beberapa SPPG yang hanya memiliki tiga sampai lima suplier. Ini jelas di bawah ketentuan," ungkap Koordinator Wilayah BGN Tulungagung, Sabrina Mahardika, Minggu (15/6/2026).

Kecurigaan adanya upaya menguntungkan pihak tertentu lewat pembatasan suplier ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa belasan dapur tersebut dipaksa berhenti mengepul.

Selain urusan dapur yang dimonopoli, BGN juga menyoroti fasilitas memasak yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.

Puncaknya, muncul laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) berupa dugaan keracunan makanan yang dialami penerima manfaat. Bagi BGN, kesehatan anak-anak adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan teknis apa pun.

"Dapur yang terkena suspend dipicu beberapa faktor krusial, mulai dari sarpras yang buruk hingga munculnya kasus keracunan. Kami harus memastikan setiap menu yang disajikan benar-benar aman dan berkualitas tinggi," tegas Sabrina.

Meski 18 SPPG dibekukan, Sabrina menjamin bahwa para penerima manfaat tidak akan telantar. BGN telah menyiapkan skema darurat dengan mengalihkan proses produksi ke dapur-dapur lain yang masih memenuhi standar.

Baca Juga: Puluhan Pengendara di Tulungagung Terjaring Razia Pajak, Ada yang Langsung Bayar di Tempat

"Penerima manfaat tidak perlu khawatir karena pelayanan MBG tetap berjalan, hanya dialihkan ke SPPG lain," tambahnya. (ANTARA)

Load More