- Badan Gizi Nasional membekukan 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Tulungagung akibat buruknya sarana prasarana serta kasus keracunan.
- Evaluasi menemukan adanya praktik monopoli oleh oknum penyalur bahan pangan yang membatasi jumlah suplier di bawah ketentuan resmi.
- BGN mengalihkan layanan pemenuhan gizi ke dapur lain untuk memastikan kesehatan penerima manfaat tetap terjaga selama masa penutupan.
SuaraJatim.id - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah membekukan sementara operasional 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Tulungagung.
Penghentian mendadak ini bukan tanpa alasan. Aroma tidak sedap tercium mulai dari sarana prasarana yang jauh dari kata layak, munculnya kasus keracunan makanan, hingga dugaan praktik monopoli yang dilakukan oknum penyalur bahan pangan.
Salah satu temuan paling mengejutkan dalam evaluasi ini adalah adanya indikasi main mata dalam rantai pasok. Sesuai aturan BGN, setiap dapur SPPG wajib menggandeng minimal 15 suplier demi menjamin transparansi dan kualitas bahan. Namun, di lapangan, kenyataannya berbanding terbalik.
"Hasil evaluasi menunjukkan ada beberapa SPPG yang hanya memiliki tiga sampai lima suplier. Ini jelas di bawah ketentuan," ungkap Koordinator Wilayah BGN Tulungagung, Sabrina Mahardika, Minggu (15/6/2026).
Kecurigaan adanya upaya menguntungkan pihak tertentu lewat pembatasan suplier ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa belasan dapur tersebut dipaksa berhenti mengepul.
Selain urusan dapur yang dimonopoli, BGN juga menyoroti fasilitas memasak yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Puncaknya, muncul laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) berupa dugaan keracunan makanan yang dialami penerima manfaat. Bagi BGN, kesehatan anak-anak adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan teknis apa pun.
"Dapur yang terkena suspend dipicu beberapa faktor krusial, mulai dari sarpras yang buruk hingga munculnya kasus keracunan. Kami harus memastikan setiap menu yang disajikan benar-benar aman dan berkualitas tinggi," tegas Sabrina.
Meski 18 SPPG dibekukan, Sabrina menjamin bahwa para penerima manfaat tidak akan telantar. BGN telah menyiapkan skema darurat dengan mengalihkan proses produksi ke dapur-dapur lain yang masih memenuhi standar.
Baca Juga: Puluhan Pengendara di Tulungagung Terjaring Razia Pajak, Ada yang Langsung Bayar di Tempat
"Penerima manfaat tidak perlu khawatir karena pelayanan MBG tetap berjalan, hanya dialihkan ke SPPG lain," tambahnya. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Puluhan Pengendara di Tulungagung Terjaring Razia Pajak, Ada yang Langsung Bayar di Tempat
-
SPPG Lamongan Dilego Rp1,5 Miliar, Konflik Internal Jadi Penyebab
-
84 Siswa Bangkalan Tumbang Usai Santap Makan Bergizi Gratis
-
Dapur MBG Situbondo Terhenti: 19 Unit SPPG Mogok Akibat Masalah Limbah dan Dana Mandek
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Monopoli dan Insiden Keracunan: 18 SPPG di Tulungagung Disetop Paksa
-
2 Oknum Perwira Polda Jatim Diduga Terlibat Jaringan Narkoba Internasional
-
Pelaku Belum Tertangkap, Keluarga Korban Pembunuhan di Bangkalan Minta Kejelasan
-
First Time ke Banyuwangi, Raline Shah Penasaran dengan Keindahan Alamnya
-
Megawati Soekarnoputri Kembali ke Blitar, Ini Agenda Lengkapnya