Wakos Reza Gautama
Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:44 WIB
Ilustrasi erupsi Gunung Semeru. Veri Irawan tertimbun longsoran material panas sisa erupsi Gunung Semeru saat menambang pasir di Lumajang pada Sabtu (20/6/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom]
Baca 10 detik
  • Veri Irawan tertimbun longsoran material panas sisa erupsi Gunung Semeru saat menambang pasir di Lumajang pada Sabtu (20/6/2026).
  • Material vulkanik di lokasi terlarang tersebut menyimpan suhu panas ekstrem yang membahayakan meskipun terlihat dingin di permukaan luar.
  • Korban kini menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Haryoto akibat menderita luka bakar parah mencapai 80 persen tubuhnya.

SuaraJatim.id - Aktivitas penambangan pasir di sekitar Jembatan Gladak Perak, Lumajang, Sabtu (20/6/2026), memakan korban. Veri Irawan (33) harus dirawat di rumah sakit usai tertimbun material sisa erupsi awan panas Gunung Semeru.

Hari itu Veri dan 16 rekan bekerja seperti biasa. Tanpa peringatan, tebing di dekat lokasi mereka bekerja runtuh. Longsoran itu adalah material sisa erupsi awan panas Gunung Semeru yang terjadi akhir November 2025 silam. Meski sudah lebih dari enam bulan berlalu, material tersebut terbukti masih menyimpan suhu layaknya bara api.

Veri tak sempat menghindar. Tubuhnya tertimbun material vulkanik yang secara kasat mata mungkin terlihat mendingin di permukaan, namun membara di dalamnya.

"Waktu itu sedang nambang cari pasir dan batu. Tiba-tiba ada semburan sekunder yang longsor dari tebing. Materialnya sangat panas," ujar Aris Susanto, kakak korban, dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Kalaksa BPBD, Isnugroho, menjelaskan bahwa endapan awan panas guguran memiliki sifat unik yang mampu memerangkap panas dalam waktu yang sangat lama di bawah lapisan permukaannya.

"Jadi, kondisi materialnya memang masih panas. Jika terkena kulit, seketika menyebabkan luka bakar. Sayangnya, korban memang menambang di zona yang sebenarnya dilarang," jelas Isnugroho.

Kini, Veri harus berjuang melewati masa kritisnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Haryoto Lumajang. Kondisinya sangat memprihatinkan. Tim medis melaporkan bahwa Veri mengalami luka bakar hingga 80 persen di sekujur tubuhnya. Angka tersebut adalah batas yang sangat tipis antara hidup dan mati.

"Luka bakar di atas 40 persen saja sudah masuk kategori sangat berbahaya. Apalagi ini mencapai 80 persen lebih," ungkap Wakil Direktur RSUD dr. Haryoto, Wawan Arwijanto. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin memberikan bantuan medis terbaik."

Baca Juga: Berkedok Mobil Dinas, 4 Petugas PLN Lumajang Gasak Kabel Listrik Aktif

Load More