Budi Arista Romadhoni
Senin, 31 Agustus 2026 | 20:24 WIB
Massa aksi BEM SI Jatim saat melakukan aksi tabur bunga di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya. (Suara.com/Dimas Angga)
Baca 10 detik
  • BEM SI Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi bertajuk Duka di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Senin, 31 Agustus 2026.
  • Aksi simbolik oleh sekitar 200 mahasiswa ini menuntut pemerintah memprioritaskan anggaran untuk penanganan dan pemulihan daerah bencana.
  • Mahasiswa juga mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset dan berencana melanjutkan gerakan melalui konsolidasi aksi berikutnya.

SuaraJatim.id - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi bertajuk“Duka”di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (31/8/2026) sore.

Berbeda dengan demonstrasi yang berorientasi pada penyampaian daftar tuntutan politik secara panjang, ratusan orang berpakaian hitam melakukan aksi tersebut sebagai gerakan simbolik untuk merefleksikan kondisi bangsa, terutama terkait arah prioritas anggaran pemerintah di tengah sejumlah bencana yang terjadi di berbagai daerah.

Presiden BEM Universitas Airlangga (Unair), M Rizqi Senja, mengatakan aksi “Duka” menjadi pemantik kritik mahasiswa terhadap negara yang dinilai belum sepenuhnya memprioritaskan penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak bencana.

“Kalau untuk tuntutannya, teman-teman sebetulnya ini lebih kepada seruan aksi simbolik. Tujuan dari aksi ini bukan aksi massa, tetapi aksi untuk merefleksikan kondisi bangsa hari ini,” ujar Rizqi disela aksi.

Menurut dia, pemerintah saat ini dinilai masih gencar mengalokasikan anggaran untuk sejumlah program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan KDMP. Namun, pada saat bersamaan, mahasiswa mempertanyakan keseriusan negara dalam memulihkan sejumlah wilayah yang terdampak bencana.

Rizqi menyinggung kondisi sejumlah daerah, mulai dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Aceh, Lampung, Papua, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menurutnya masih membutuhkan perhatian serius dalam proses pemulihan.

“Kalau kita lihat kondisi bangsa hari ini, ternyata bencana terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Ada NTT, Kalimantan, Aceh yang belum pulih, Lampung, Papua, bahkan NTB. Negara belum benar-benar bisa hadir untuk memulihkan bencana dan kondisi masyarakat di sana,” katanya.

BEM SI Jatim pun menegaskan salah satu pesan utama yang dibawa dalam aksi tersebut adalah mendesak pemerintah untuk menempatkan penanganan bencana sebagai prioritas dalam kebijakan anggaran.

“Kami menuntut kekuasaan untuk benar-benar memprioritaskan anggarannya untuk penanganan bencana hari ini,” tegas Rizqi.

Baca Juga: Barisan Mahasiswa Pecah, Kobaran Api di Depan Grahadi Jadi Penutup Aksi

Selain isu penanganan bencana, BEM SI Jatim juga menaruh perhatian terhadap pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Rizqi menilai secara substansi regulasi tersebut penting sebagai instrumen pemberantasan korupsi.

Menurut dia, korupsi yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia membuat keberadaan regulasi perampasan aset hasil tindak pidana menjadi kebutuhan.

“Secara substansial dan material, RUU Perampasan Aset memang diperlukan. Ketika hari ini kita melihat korupsi masih banyak dan merajalela, otomatis substansi rancangan undang-undang itu memang diperlukan,” ujarnya.

Meski demikian, BEM SI Jatim menilai persoalan penanganan bencana tetap menjadi salah satu isu mendesak yang harus mendapat perhatian serius pemerintah.

Rizqi menambahkan, isu RUU Perampasan Aset tetap akan menjadi perhatian mahasiswa dalam agenda gerakan selanjutnya.

Aksi “Duka” di Grahadi diikuti mahasiswa dari sejumlah kampus yang tergabung dalam BEM SI Jawa Timur. Di antaranya BEM Unair, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), perwakilan mahasiswa dari Madura, serta Malang.

Load More