- Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo keracunan massal setelah menyantap makan siang program gratis pada Selasa, 1 September 2026.
- Dinas Kesehatan dan kepolisian telah mengambil sampel makanan untuk diuji laboratorium guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
- Pihak pesantren meminta evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur sementara distribusi makanan dihentikan sementara waktu.
SuaraJatim.id - Raungan puluhan ambulans memecah jalanan dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, menuju RSUD Notopuro.
Dalam perjalanan lebih dari tujuh kilometer itu, sejumlah santri terbaring dengan keluhan yang nyaris serupa: perut terasa sakit, kepala pening, mual hingga muntah.
Mereka sebelumnya menyantap makan siang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).
Di antara ratusan santri yang harus mendapat penanganan medis, Muhammad Rehan Ardiansyah menjadi salah satu yang merasakan langsung kepanikan tersebut.
Santri kelas VII itu baru sekitar dua bulan tinggal di Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Namun dalam waktu singkat, ia harus melihat teman-teman sekamarnya satu per satu mengalami keluhan serupa.
"Dari kamar saya 10," ujar Rehan saat ditanya jumlah teman sekamarnya yang juga mengalami gejala hingga harus menjalani perawatan.
Keluhan muntah pun dialami sejumlah santri.
Peristiwa itu meninggalkan ketakutan tersendiri. Bahkan ketika ditanya apakah masih berani menyantap makanan tertentu setelah kejadian tersebut, Rehan menjawab singkat.
"Takut terulang lagi."
Baca Juga: 293 Santri di Sidoarjo Keracunan MBG, 8 Orang Kondisi Berat
Ketakutan seorang santri kelas VII itu menjadi gambaran kecil dari kepanikan yang terjadi di lingkungan pesantren pada Selasa sore.
Dari Dua Santri Menjadi Ratusan
Menurut Humas Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Bahron Nafi', makanan MBG dikirim sekitar pukul 11.15 WIB dan dikonsumsi para santri sekitar pukul 13.00 WIB setelah menunaikan salat.
Menu yang disantap saat itu terdiri dari nasi, telur orak-arik, tempe, tahu, dan sayur.
Program tersebut, kata Bahron, telah berjalan sekitar dua bulan di lingkungan pesantren dan sebelumnya tidak pernah menimbulkan persoalan.
Namun, situasi berubah setelah waktu Ashar.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Dwi Bagus Jagal Sadis Madiun: Si Pintar Lulusan ITB Diburu Korporasi Asing dengan Gaji 9 Juta/Hari
-
Detik-detik Honda CR-V Membara di Tol Jomo: Pengemudi 61 Tahun Lolos dari Kepungan Api
-
PG Jatiroto Buka Suara soal Dugaan Penggelapan 75 Ton Gula, Kerugian Pembeli Capai Rp1,2 Miliar
-
Ada 102 Perusahaan: Simak Jadwal, Syarat, dan Link Daftar Job Fair Jatim 2026
-
Overstay Setahun, Dua WNA Thailand Dideportasi dari Indonesia