- Puluhan hektare lahan pertanian warga Desa Sidomulyo, Magetan, mengalami kekeringan ekstrem pada Minggu, 6 September 2026.
- Petani mengalami kerugian besar akibat tanaman hortikultura seperti tomat dan cabai terancam gagal panen massal.
- Harga jual berbagai komoditas pertanian di pasaran merosot drastis sehingga tidak mampu menutupi biaya produksi.
SuaraJatim.id - Kekeringan tengah melanda Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Magetan. Hamparan ladang yang biasanya hijau royo-royo, kini ribuan tanaman yang merunduk lesu.
Kemarau panjang tahun ini bukan sekadar fenomena cuaca bagi warga lereng Gunung Lawu ini tapi juga mencekik napas ekonomi mereka. Puluhan hektare lahan hortikultura, mulai dari tomat, cabai, hingga terong, kini berada di ambang kematian massal.
Penyiraman yang biasanya menjadi ritual harian, kini menjadi kemewahan yang sulit digapai. Sumber air irigasi kian surut, meninggalkan petani dalam dilema. Di salah satu sudut ladang, tanaman tomat tampak memprihatinkan.
Daunnya menggulung layu, sementara buah yang tumbuh tak lagi bulat sempurna, kecil dan mengerut sebelum waktunya.
Bagi sebagian petani, kondisi ini sudah melampaui batas kemampuan mereka. Beberapa memilih membiarkan tanaman mereka mati berdiri di lahan.
Namun, bukan hanya alam yang sedang tidak bersahabat. Para petani di Sidomulyo kini terjepit dalam sebuah ironi ekonomi yang menyakitkan. Di tengah produktivitas yang merosot tajam akibat kekurangan air, harga jual di pasaran justru terjun bebas.
Sastro Rejan, salah seorang petani setempat, menatap getir pada hamparan tanaman terong dan cabainya.
"Petani semua merugi, Mas. Tanaman terong, cabai, tomat, semuanya kurang air. Sudah begitu, harganya juga turun drastis," keluhnya, Minggu (6/9/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Data di lapangan menggambarkan situasi yang brutal bagi kantong petani. Harga tomat yang sebelumnya masih bisa menyentuh angka Rp5.000 per kilogram, kini dihargai sangat rendah, hanya Rp1.000 per kilogram.
Begitu pula dengan terong, yang harganya merosot dari Rp6.000 menjadi hanya seribu rupiah. Cabai merah keriting pun tak luput dari tren negatif, turun dari Rp26.000 menjadi Rp21.000 per kilogram.
Baca Juga: Drama Siswi SMK Magetan Melahirkan Sendiri Lalu Tinggalkan Bayi di Bawah Pohon Randu
Kondisi ini menjalar hingga ke Pasar Sayur Magetan. Jamin Nurwahid, petani lainnya, menyebut bahwa biaya produksi yang telah mereka keluarkan kini mustahil tertutup oleh hasil penjualan.
Di pasar, harga eceran memang sedikit lebih tinggi dari harga di tingkat petani, namun tetap menunjukkan penurunan yang signifikan. Terong yang biasanya dijual Rp5.000 kini hanya dihargai Rp2.500 di pasar.
Berita Terkait
-
Drama Siswi SMK Magetan Melahirkan Sendiri Lalu Tinggalkan Bayi di Bawah Pohon Randu
-
Usai Demo di DPR RI, Ketua Forum Petani Jember Dipecat Jadi Distributor Pupuk!
-
Mobil Dinas Camat Rp5 Miliar Jadi Sorotan, Sekda Magetan: Yang Lama Sudah Tua
-
Detik-Detik Mobil SPPG Magetan Terguling Usai Hantam Tiang Wi-Fi
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Mitsubishi Destinator Ultimate: 7-Seater Family Car yang Bikin Perjalanan Keluarga Lebih Mewah
-
Tak Perlu Ribet, Qlola Mobile BRI Permudah Akses Finansial Perusahaan
-
Bantuan Pangan di Tulungagung Tak Tersalur 100 Persen, Ini Penyebabnya
-
Disorot Publik, Gibran Akhirnya Mundur dari Jabatan
-
Makin Seru! Rayakan Sumpah Pemuda dengan Deretan Promo BRI