- Warga RW 2 Gunungsari, Surabaya, berhasil mengubah ribuan gelas plastik bekas menjadi kostum karnaval bernilai jutaan rupiah sejak tahun 2016.
- Kegiatan produksi kostum yang dipimpin guru bernama Wahono Karyo ini melibatkan ibu-ibu PKK dan Karang Taruna untuk menggerakkan ekonomi.
- Inisiatif kreatif berbasis gotong royong tersebut berhasil mengantar wilayah itu menjadi kandidat Kampung Pancasila dengan berbagai program sosial.
SuaraJatim.id - Berawal dari kreativitas mengolah gelas plastik bekas menjadi kostum karnaval bernilai jutaan rupiah, warga RW 2 Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya, membuktikan bahwa sampah bukan sekadar persoalan lingkungan.
Di tangan warga yang kreatif dan kompak, barang bekas bisa menjelma menjadi karya seni, membuka peluang ekonomi, menggerakkan pemuda, sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Inilah potret Kampung Pancasila yang tumbuh bukan hanya dari slogan, melainkan dari kerja nyata.
Siapa sangka, ribuan gelas plastik bekas yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi justru bisa menjadi bahan baku karya seni bernilai jutaan rupiah.
Di sebuah sudut RW 2 Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya, tumpukan gelas plastik, botol bekas, hingga berbagai material tak terpakai disulap menjadi kostum karnaval dengan desain unik dan penuh detail.
Ada yang menyerupai sayap burung, ornamen tumbuhan, hingga busana artistik dengan bentuk menyerupai gunung.
Karya-karya itu bukan sekadar pajangan. Sebagian telah melanglang buana dalam berbagai kegiatan dan festival, termasuk Jember Fashion Carnaval (JFC).
Bahkan, kreativitas warga RW 2 Gunungsari pernah mengantarkan mereka meraih penghargaan kostum terunik dalam ajang tersebut pada 2022 dan 2024.
Di balik karya-karya yang tampak megah itu, ada cerita tentang seorang guru Bahasa Indonesia yang memiliki kecintaan besar terhadap seni, ibu-ibu yang telaten mengolah bahan bekas, serta anak-anak muda Karang Taruna yang tidak hanya belajar membuat kostum, tetapi juga berlatih menjadi model peraga busana.
Sosok di balik kreativitas tersebut adalah Wahono Karyo. Guru SMP Negeri 4 Surabaya itu menjadi penanggung jawab produksi sekaligus desain kostum.
Baca Juga: Janjikan Jalur Khusus Masuk Kejaksaan, Oknum Advokat di Surabaya Gasak Duit Korban Rp520 Juta
Berbekal ketertarikan terhadap dunia seni, Wahono mengembangkan kegiatan yang awalnya hanya berangkat dari rasa penasaran terhadap festival karnaval menjadi sebuah aktivitas produktif yang melibatkan masyarakat.
Perjalanannya tidak terjadi dalam semalam. Wahono mulai tertarik dengan dunia kostum karnaval setelah menyaksikan langsung kemeriahan karnaval di Jember pada 2015.
Pengalaman tersebut membuka pandangannya bahwa kostum karnaval bukan sekadar pakaian dengan ornamen mencolok, melainkan karya seni yang membutuhkan kreativitas, ketelitian, pemahaman warna, serta keterampilan mengolah material.
Setahun kemudian, pada 2016, ia mendapat kesempatan mengikuti workshop pembuatan kostum secara gratis melalui komunitas Danis Faris.
Di sana, ia belajar berbagai teknik, mulai dari pembuatan desain, pemilihan bahan, kombinasi warna atau color ring, hingga proses membangun bentuk dan karakter kostum. Ilmu tersebut kemudian dibawa pulang dan dikembangkan bersama warga.
"Awalnya tahun 2015 saya mencoba melihat karnaval di Jember. Kemudian pada 2016 saya ikut workshop secara gratis. Di sana kami dilatih membuat kostum, termasuk mempelajari lingkaran warna, pemilihan bahan, dan sebagainya," tutur Wahono.
Dari pengalaman itu, kreativitasnya terus berkembang. Ia tidak hanya membuat kostum menggunakan bahan baru, tetapi juga mulai memanfaatkan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Salah satu material yang paling banyak digunakan adalah gelas plastik bekas minuman.
Jangan bayangkan gelas plastik itu hanya ditempel begitu saja. Dalam proses produksinya, gelas-gelas bekas harus dipilah, dibersihkan, dipotong, kemudian dibentuk sedemikian rupa hingga menghasilkan ornamen yang sesuai dengan desain.
Pada salah satu kostum, misalnya, gelas plastik berukuran jumbo dipotong menjadi beberapa bagian, kemudian ditekuk dan dirangkai hingga menyerupai sayap.
"Kalau ini dari gelas bekas minuman. Gelas yang ukurannya jumbo itu kita belah menjadi beberapa bagian, kemudian kita tekuk. Akhirnya bisa menjadi sayap," jelasnya.
Untuk satu desain tertentu, kebutuhan materialnya bahkan bisa mencapai lebih dari 1.000 gelas plastik. Sementara tutup botol biasanya digunakan sebagai pelengkap untuk memperkuat detail dan variasi ornamen.
Proses tersebut jelas membutuhkan tenaga dan kesabaran. Karena itu, Wahono tidak mengerjakannya sendirian.
Ia mengajak ibu-ibu PKK dan anggota Karang Taruna untuk terlibat dalam proses produksi. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, seperti memotong gelas plastik dalam jumlah besar, dikerjakan bersama-sama.
Dalam satu kegiatan produksi, sedikitnya lima orang bisa dilibatkan hanya untuk mengerjakan pemotongan material.
"Teman-teman Karang Taruna dan ibu-ibu membantu pekerjaan yang kecil-kecil seperti ini. Untuk satu desain, kadang kita membutuhkan sampai 2.000 gelas. Kemudian harus dipotong-potong. Itu membutuhkan sekitar lima orang," ungkapnya.
Pembagian pekerjaan dilakukan berdasarkan kemampuan masing-masing. Wahono bertanggung jawab pada desain dan pengerjaan teknis utama, sementara warga membantu menyiapkan bahan, memotong, menempel, hingga merangkai ornamen.
Ketika ada pesanan dalam jumlah besar atau tenggat waktu yang singkat, jumlah tenaga yang dilibatkan juga ditambah.
Di sinilah kegiatan yang semula berangkat dari kreativitas pribadi mulai berkembang menjadi aktivitas kolektif masyarakat.
Dari Bengkel Kreatif Kampung, Kostum Menembus Pasar
Kreativitas warga RW 2 Gunungsari ternyata tidak berhenti pada kegiatan lingkungan atau perlombaan antarkampung. Kostum-kostum hasil produksi mereka mulai memiliki pasar tersendiri.
Wahono mengaku hingga sekarang masih aktif memproduksi kostum, baik berbahan daur ulang maupun material lainnya.
Sejumlah perusahaan media, sekolah, sanggar seni, hingga penyelenggara kegiatan pernah menggunakan jasa mereka. Bahkan, pesanan tidak selalu datang dari Surabaya.
Ada permintaan yang mengharuskan mereka menyiapkan kostum sekaligus talent atau peraganya.
"Kadang-kadang Jawa Pos maupun Surya kalau ada event menggunakan kostum produksi kami. Mereka juga meminta kami menyiapkan talent sekaligus kostumnya," katanya.
Untuk harga, kostum yang diproduksi memiliki rentang cukup beragam. Mulai Rp250 ribu, Rp500 ribu, Rp1 juta, hingga Rp2 juta, bergantung pada tingkat kesulitan, desain, dan detail pengerjaannya.
Sebagian besar kostum menggunakan sistem penyewaan untuk sekali pemakaian. Setelah digunakan dalam kegiatan, kostum dikembalikan untuk diperiksa dan disiapkan kembali.
Namun, ada pula pesanan khusus dari sekolah maupun sanggar seni yang menginginkan desain sesuai tema tertentu.
"Biasanya sanggar datang dan meminta dibuatkan kostum dengan tema tertentu. Kalau yang ini temanya palem," ujarnya sambil menunjukkan salah satu karya.
Permintaan dalam jumlah besar juga pernah mereka terima. Saat perayaan Hari Jadi Kota Surabaya, misalnya, pesanan mencapai 50 kostum. Sementara dalam kegiatan lain, salah satu kantor media pernah meminta sekitar 20 kostum.
Kapasitas produksi mereka tentu memiliki batas. Untuk stok kostum yang benar-benar layak pakai, jumlahnya sekitar 15 unit. Jika permintaan melebihi persediaan, Wahono menggandeng jaringan pembuat kostum dari Surabaya hingga Jember.
Bahkan, ia mengajak anak-anak muda dari Jember untuk bekerja sama memenuhi kebutuhan pesanan.
"Kalau ada pesanan sampai 50 kostum, tentu stok kami tidak mencukupi. Karena itu, kami bekerja sama dengan pembuat kostum lainnya, termasuk teman-teman di Jember," jelasnya.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa usaha kreatif yang tumbuh dari lingkungan kampung dapat membangun jejaring ekonomi lebih luas. Tidak hanya melibatkan warga setempat, tetapi juga membuka ruang kerja sama dengan komunitas kreatif dari daerah lain.
Tingkat kesulitan kostum menjadi penentu lamanya pengerjaan. Untuk desain dengan detail penuh, proses produksi bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan.
Namun, jika pelanggan membutuhkan kostum dalam waktu cepat, Wahono berusaha memenuhi permintaan tersebut.
"Kalau ada yang meminta cepat, seminggu juga bisa. Biasanya kami harus begadang. Tetapi semua tergantung desain dan tingkat kesulitannya," katanya.
Satu hal yang menjadi perhatian Wahono adalah kenyamanan pemakai. Kostum karnaval yang terlihat besar dan megah tidak boleh membuat orang yang mengenakannya kesulitan bergerak.
Karena itu, ia menggunakan kerangka besi ringan agar kostum tetap kokoh, tetapi tidak terlalu membebani tubuh. Bahkan, kostum tersebut dirancang agar bisa dikenakan anak-anak sekolah dasar kelas VI tanpa merasa terlalu berat.
"Kerangkanya menggunakan besi yang ringan. Anak-anak SD kelas VI saja masih kuat memakainya. Kami memang memikirkan kenyamanan orang yang menggunakan kostum," ujarnya.
Sebelum disewakan atau dikirim kepada pemesan, setiap kostum juga menjalani pemeriksaan. Bagian yang lepas, ornamen yang rusak, hingga lem yang tidak lagi merekat harus diperbaiki.
Khusus material plastik, pengecatan ulang terkadang diperlukan karena sebagian lapisan cat bisa terkelupas akibat gesekan atau proses pengemasan.
Pemeriksaan itu menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas produk, terlebih kostum-kostum tersebut digunakan berulang kali dalam berbagai kegiatan.
Karang Taruna Bukan Sekadar Tenaga Produksi, tetapi Juga Talent
Ada hal menarik lain dari aktivitas kreatif RW 2 Gunungsari. Anak-anak muda Karang Taruna tidak hanya dilibatkan sebagai tenaga produksi, tetapi juga dilatih menjadi talent atau peraga kostum karnaval.
Wahono mengajarkan teknik berjalan di atas panggung atau catwalk, termasuk cara membawa dan memperagakan kostum yang memiliki ukuran serta bentuk tidak biasa.
Baginya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tampil percaya diri.
Ia tidak menjadikan penampilan fisik sebagai ukuran utama dalam memilih talent. Sebab, kostum yang tepat dapat membuat siapa pun terlihat menarik ketika mengenakannya.
"Kalau sudah memakai kostum seperti ini, semuanya bisa terlihat cantik dan ganteng. Sepatunya juga tinggi, sehingga yang bertubuh pendek tidak menjadi masalah. Kami melatih anak-anak Karang Taruna agar bisa menikmati kegiatan ini," tuturnya.
Keterlibatan pemuda tersebut menjadi bagian penting dari keberlanjutan program. Mereka tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis, tetapi juga pengalaman tampil, keberanian, kedisiplinan, dan kesempatan terlibat dalam kegiatan produktif.
Di sisi lain, ibu-ibu yang membantu produksi memperoleh ruang untuk mengembangkan keterampilan dan mengisi waktu dengan kegiatan bernilai ekonomi.
Ketua RW 2 Kelurahan Gunungsari, Yudo Agung Setiawan, mengatakan kegiatan pembuatan kostum tersebut memberikan manfaat nyata bagi warga.
Menurutnya, program yang digagas Wahono menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang memadukan kreativitas, keterampilan, dan semangat gotong royong.
Warga tidak harus menguasai seluruh proses pembuatan kostum. Mereka dapat terlibat sesuai kemampuan, terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan, seperti menempelkan dan merangkai ornamen.
"Kalau desain memang Pak Wahono yang mengerjakan. Tetapi untuk proses produksinya bisa dibantu adik-adik Karang Taruna dan ibu-ibu PKK setempat. Ada pelatihan juga untuk mereka," kata Yudo.
Ia berharap aktivitas tersebut tidak hanya berhenti pada produksi kostum, tetapi juga memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat RW 2.
Sebab, ketika ada pesanan, tenaga warga dapat dilibatkan. Dengan demikian, aktivitas ekonomi tidak hanya terpusat pada satu orang, melainkan bergerak bersama masyarakat.
Yudo mengakui belum ada skema bantuan langsung yang secara khusus diberikan kepada warga kurang mampu melalui kegiatan produksi kostum. Namun, keterlibatan warga dalam proses pengerjaan menjadi salah satu bentuk kesempatan untuk mendapatkan manfaat.
Selain itu, keberadaan kostum-kostum tersebut juga memberi nilai tambah bagi kampung. Setiap tahun selalu ada desain baru yang dipersiapkan untuk berbagai kegiatan, termasuk festival di Jember.
Saat peringatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan bulan Suro, kostum-kostum tersebut juga ramai dipinjam oleh kelurahan-kelurahan di sekitar Gunungsari.
Artinya, karya kreatif yang lahir dari satu RW mampu memberikan manfaat hingga ke lingkungan yang lebih luas.
Kepedulian Sosial Menjangkau 100 Keluarga
Namun, kekuatan RW 2 Gunungsari sebagai kandidat Kampung Pancasila tidak hanya terletak pada kreativitas mengolah sampah menjadi kostum karnaval.
Di balik aktivitas ekonomi kreatif itu, terdapat gerakan sosial yang telah berjalan sejak 2020 melalui program Kampung Madani.
Program tersebut menjadi wadah kepedulian warga terhadap sesama, khususnya keluarga yang membutuhkan bantuan.
Yudo menyebut manfaat program Kampung Madani telah dirasakan lebih dari 100 keluarga. Bantuan yang diberikan tidak selalu berupa uang, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan warga.
Ada warga yang mengalami kesulitan membeli tempat tidur karena menderita gangguan pada bagian pinggul atau pinggang. Melalui kepedulian pengurus dan warga, kebutuhan tempat tidur tersebut diupayakan agar dapat terpenuhi.
Ada pula warga yang mengalami kesulitan menggerakkan kaki sehingga membutuhkan bantuan. Bahkan, ketika ada warga yang membutuhkan dukungan untuk kegiatan donor darah, pengurus berusaha membantu mencarikan pendonor dari lingkungan sekitar.
"Yang menerima manfaat sudah banyak, lebih dari 100 keluarga. Bentuk bantuannya bermacam-macam. Ada warga yang tidak mampu membeli tempat tidur karena sakit pinggul atau pinggang, kemudian kami bantu. Ada juga warga yang kesulitan menggerakkan kaki. Kalau ada yang membutuhkan donor darah, kami berusaha mencarikan bantuan," jelas Yudo.
Baginya, kepedulian sosial tidak selalu harus menunggu program pemerintah. Masyarakat juga bisa mengambil peran sesuai kemampuan.
Memang, persoalan kesejahteraan warga merupakan tanggung jawab pemerintah. Namun, kepedulian dari lingkungan terdekat menjadi kekuatan penting untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Program tersebut awalnya berjalan lebih rutin setiap bulan. Namun, setelah melalui kesepakatan pengurus, penyaluran bantuan kemudian dilakukan setiap dua bulan sekali agar pengelolaannya lebih teratur.
Meski tidak selalu disalurkan setiap bulan, kegiatan sosial itu tetap berjalan secara berkelanjutan sejak 2020 hingga sekarang.
"Memang tidak selalu setiap bulan, tetapi setiap dua bulan pasti ada bantuan yang diserahkan. Itu sudah menjadi kesepakatan pengurus," ungkapnya.
Pola tersebut menunjukkan bahwa gotong royong di RW 2 bukan sekadar aktivitas seremonial ketika ada perlombaan atau penilaian kampung. Kepedulian sosial dibangun sebagai kebiasaan yang terus dipelihara.
Arisan APAR, Cara Warga Membangun Ketahanan Menghadapi Kebakaran
Kepedulian warga terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui upaya pencegahan kebakaran.
Salah satu program yang dijalankan adalah arisan alat pemadam api ringan (APAR). Gagasan ini muncul setelah rumah seorang ketua RT mengalami kebakaran akibat korsleting listrik.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa kebakaran bisa terjadi kapan saja dan kesiapsiagaan warga menjadi hal penting.
Naning, selaku Kader Surabaya Hebat (KSH), menjelaskan bahwa warga kemudian berinisiatif mengadakan arisan APAR agar setiap rumah memiliki peralatan pemadam kebakaran sederhana.
Mekanismenya dilakukan setiap tanggal 7 bersamaan dengan kegiatan PKK.
"Awalnya rumah Pak RT mengalami kebakaran karena korsleting kabel. Kemudian muncul ide membuat arisan APAR. Penarikannya setiap tanggal 7, bersamaan dengan kegiatan PKK," kata Naning.
Program tersebut mulai berjalan pada 2022 dan diikuti 25 rumah. Hingga kini, seluruh rumah yang tergabung telah memperoleh APAR.
Selain penyediaan alat pemadam, warga juga memiliki sistem alarm kebakaran yang ditempatkan di beberapa titik lingkungan, termasuk area gang.
Masyarakat juga pernah mendapatkan pelatihan penanggulangan kebakaran pada 2022. Pelatihan tersebut kemudian kembali dilakukan melalui kegiatan di balai RW.
Langkah sederhana ini memperlihatkan bahwa ketahanan kampung tidak hanya dibangun melalui kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi juga melalui kesadaran menghadapi risiko bencana.
Warga berusaha tidak hanya mengandalkan bantuan ketika kebakaran terjadi, melainkan menyiapkan perangkat pencegahan sejak dini.
Modal Gotong Royong Mengantar Gunungsari Menuju Kampung Pancasila
Berbagai program yang berjalan di RW 2 Gunungsari menjadi bagian dari kekuatan Kelurahan Gunungsari dalam mengikuti penilaian Kampung Pancasila.
Lurah Gunungsari, Salma, mengatakan wilayahnya memiliki modal sosial yang cukup kuat. Semangat gotong royong, keterlibatan pemuda, hingga kepedulian warga terhadap lingkungan menjadi potensi yang diharapkan mampu mengantarkan Gunungsari melaju ke tahap berikutnya.
Ia berharap dua wilayah yang diusulkan dapat lolos hingga 200 besar. Namun, berdasarkan hasil verifikasi lapangan, RW 2 dinilai memiliki potensi yang cukup menonjol.
"Harapan kami dua-duanya bisa lolos menuju 200 besar. Kami melihat potensi gotong royong masyarakatnya, kemudian semangat pemuda-pemudanya juga luar biasa. Dari hasil verifikasi hari ini, mungkin RW 2 sedikit lebih mendongkrak nilai," ujar Salma.
Menurutnya, kekuatan Gunungsari tidak dibangun secara instan. Sebelum mengikuti penilaian Kampung Pancasila, kelurahan tersebut telah memiliki pengalaman dalam program lingkungan.
Pada 2022, 2023, dan 2024, Gunungsari pernah meraih penghargaan dalam program Surabaya Berseri tingkat provinsi.
Dalam program tersebut, terdapat empat RW yang menjadi bagian dari upaya mewakili Kelurahan Gunungsari, yakni RW 1, RW 2, RW 5, dan RW 7.
Pengalaman itu menjadi modal penting untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa lingkungan yang baik bukan hanya soal jalan bersih, taman tertata, atau kampung yang terlihat indah.
Lebih dari itu, lingkungan yang berdaya membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Salma menekankan, semangat gotong royong harus terus diperluas. Tidak hanya melibatkan pengurus RT dan RW, tetapi juga KSH, PKK, Karang Taruna, serta seluruh warga.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian serius adalah pengelolaan sampah.
Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa terus-menerus diserahkan sepenuhnya kepada tempat pembuangan akhir (TPA). Setiap rumah harus mulai memiliki kesadaran untuk mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.
"Kami berharap seluruh elemen masyarakat, mulai RT, RW, KSH, warga, hingga pemuda, ikut berperan aktif menjaga lingkungan. Tidak hanya soal kebersihan, tetapi juga gotong royong dan pemanfaatan sampah," katanya.
Ia menilai sampah merupakan persoalan besar yang harus dihadapi setiap tahun. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah justru akan menjadi beban bagi lingkungan dan masyarakat.
Karena itu, setelah penilaian Kampung Pancasila, pihak kelurahan berharap muncul gerakan yang lebih luas agar setiap rumah memiliki kebiasaan memilah sampah.
"Kalau tidak bisa mengelola sampah, kita akan terus menghadapi persoalan yang sama. Kita tidak bisa hanya mengandalkan TPA. Sampah harus dikelola dari rumah. Mudah-mudahan setelah ini setiap rumah diwajibkan memilah sampah," tegasnya.
Harapan tersebut sejalan dengan praktik yang telah dilakukan RW 2. Di tempat ini, sampah plastik tidak semata-mata dipandang sebagai limbah yang harus dibuang. Sebagian justru menjadi bahan baku yang bisa diolah menjadi karya seni dan memiliki nilai ekonomi.
Meski demikian, pengolahan sampah menjadi kostum karnaval tentu bukan satu-satunya jawaban atas persoalan lingkungan. Namun, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari skala paling kecil, yakni lingkungan tempat tinggal.
Pancasila yang Hidup dalam Aktivitas Sehari-hari
Di RW 2 Gunungsari, nilai-nilai Pancasila tidak hanya hadir dalam slogan atau tulisan yang dipasang di sudut kampung.
Nilai kemanusiaan terlihat ketika warga membantu keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, menyediakan tempat tidur bagi warga sakit, hingga mengupayakan donor darah bagi mereka yang membutuhkan.
Persatuan terlihat ketika ibu-ibu PKK, Karang Taruna, dan warga bergotong royong mengolah ribuan gelas plastik menjadi kostum karnaval. Perbedaan usia dan kemampuan tidak menjadi penghalang untuk bekerja bersama.
Semangat kerakyatan terlihat dari keterlibatan warga dalam mengambil keputusan, termasuk ketika menyepakati mekanisme penyaluran bantuan sosial dan menjalankan arisan APAR.
Sementara nilai keadilan sosial tercermin dari upaya membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan produktif dan memperoleh manfaat ekonomi.
Di tengah persoalan perkotaan yang semakin kompleks, RW 2 Gunungsari menghadirkan gambaran bahwa kampung bisa menjadi ruang tumbuhnya kreativitas sekaligus solidaritas.
Kostum karnaval berbahan sampah mungkin menjadi hal paling mudah dilihat oleh orang luar. Namun, cerita yang lebih besar justru berada di balik proses pembuatannya.
Ada tangan-tangan ibu rumah tangga yang bekerja telaten, ada pemuda yang belajar mengembangkan potensi, ada warga yang saling membantu, dan ada pengurus kampung yang menjaga agar kepedulian itu tetap berjalan.
Bagi Wahono, kegiatan tersebut bukan sekadar urusan membuat kostum dan memenuhi pesanan. Ada kepuasan tersendiri ketika warga bisa terlibat, belajar, dan menghasilkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
Sementara bagi Yudo, program-program itu membuktikan bahwa kekuatan kampung terletak pada kemampuan warganya untuk saling mendukung.
Dan bagi Salma, pengalaman Gunungsari mengelola lingkungan selama beberapa tahun harus menjadi pijakan untuk membangun kesadaran yang lebih luas.
Pada akhirnya, predikat Kampung Pancasila bukan hanya tentang siapa yang paling bagus menata kampung atau paling banyak memasang atribut. Lebih penting dari itu adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat.
Di RW 2 Gunungsari, semangat itu tumbuh dari sesuatu yang sederhana: gelas plastik bekas yang tidak dibuang begitu saja, tangan-tangan warga yang bekerja bersama, dan kepedulian yang tidak berhenti pada tetangga sebelah rumah.
Dari sampah menjadi karya. Dari karya tumbuh ekonomi. Dari gotong royong lahir kepedulian. Itulah wajah Kampung Pancasila yang sedang mereka bangun.
Kontributor : Dimas Angga Perkasa
Berita Terkait
-
Janjikan Jalur Khusus Masuk Kejaksaan, Oknum Advokat di Surabaya Gasak Duit Korban Rp520 Juta
-
Babak Baru Korupsi Kebun Binatang Surabaya: Sprindik Jilid II Terbit, Aliran Dana ke Dewan Disorot
-
Bukannya Dapat Penghargaan, 7 Polisi Penangkap 3 Legislator Gerindra Malah 'Dibuang' ke Polsek
-
Dua Kos di Surabaya Jadi Tempat Simpan Sabu, Pengedar Raup Untung Rp500 Ribu per Gram
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Sulap Sampah Plastik Menjadi Kostum Jutaan Rupiah, Kisah Gotong Royong Kampung Pancasila Gunungsari
-
Buntut Penggerebekan Suami Bidan, Oknum Dokter Kepala Puskesmas Robatal Resmi Dipecat
-
Viral Status 'Leren Sik' Wakil Ketua DPRD Jatim: Tak Ada Potret Wapres Gibran
-
Bandara Dhoho Kediri Resmi Jadi Embarkasi Haji 2027, Layani 15 Daerah Sekaligus
-
Dukung Tumbuh Kembang Anak, BRI Prioritas Perluas Privilege Lewat Kolaborasi dengan Sequoia School