Indeks Terpopuler News Lifestyle

Aksi Protes Biduan di Gresik; Izinkan Kami Goyang Daripada Kerja Haram

Chandra Iswinarno Kamis, 06 Agustus 2020 | 16:54 WIB

Aksi Protes Biduan di Gresik; Izinkan Kami Goyang Daripada Kerja Haram
Aksi protes biduan di Gresik yang tak mendapat penghasilan selama Pandemi Covid-19. [Suara.com/Amin]

Untuk menyambung hidup, mereka rela menjual perkakas alat rumah tangga, mulai kulkas hingga televisi.

SuaraJatim.id - Pandemi Covid-19 tidak hanya memukul pertumbuhan ekonomi saja, namun juga berdampak diseluruh sektor. Salah satunya adalah para pekerja seni di Kabupaten Gresik.

Terhitung sejak lima bulan terkahir ini mereka nyaris tidak berpenghasilan.

"Saya ini janda, ibu rumah tangga, anak dua. Siapa lagi yang menghidupi mereka berdua kalau saya tidak boleh manggung," kata salah satu biduan yang tidak mau disebut namanya saat ikut aksi di DPRD Gresik, Kamis (6/8/2020).

Pertunjukkan seni yang menjadi sumber perekonomian berhenti total selama pandemi. Untuk menyambung hidup, mereka rela menjual perkakas alat rumah tangga, mulai kulkas hingga televisi. Bahkan beberapa seniman lainnya, mengaku tidak mampu membayar uang sekolah anaknya.

"Akhirnya terpaksa semua terjual. Televisi dua saya jual satu, kalau ndak begini gimana bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari," tambahnya.

Selain menjual perkakas alat rumah tangga, biduan tersebut juga mengaku rela menjual makanan secara online. Tentu hasilnya tidak sebanding dengan gaji yang diterima ketika ia menyanyi di panggung. Namun itu dilakoni supaya bisa bertahan hidup.

"Jauh perbandingannya. Sekali manggung bisa sampai puluhan juta yang bisa dihasilkan. Ini jualan makanan kadang tidak laku. Otomatis rugi karena makanan gampang membusuk," jelas perempuan berusia 35 tahun itu.

Dalam aksi tersebut, pendemo membawa sejumlah poster tuntutan dan keresahan mereka, seperti 'Izinkan Kami Goyang Daripada Kerja Haram', 'Kami Rindu BPK Sam Nyanyi...", 'Gak Goyang Gak Mangan' dan beberapa tulisan lainnya.

Sedangkan seniman lain yang terkena dampak adalah Selamet. Laki-laki yang menjadi gitaris di orkes kampung itu menuturkan, pandemi membuat dirinya kalang kabut mencari hutangan. Dokumen BPKB motor miliknya satu-satunya pun digadaikan. Selama lima bulan ia nyaris tidak mempunyai pendapatan.

"Kalau biasanya sekali manggung bisa sampai Rp 250 ribu. Belum terhitung uang saweran yang dibagi-bagi sama pemaian lain. Masih untung lah timbang sekarang," tuturnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait