Sesepuh desa juga membacakan doa-doa dan setelahnya isi dari gunungan menjadi rebutan warga. Mereka percaya jika berhasil membawa hasil bumi akan membawa berkah.
Vita, salah seorang pengunjung mengaku sengaja datang ke lokasi pesarean ini. Dirinya ingin melihat langsung prosesi ritual bersih desa.
"Ini sengaja datang. Dulu saat pandemi tidak seramai sekarang acaranya, jadi sekaligus ingin melihat proses ritual bersih desanya," kata Vita.
Prabu Anom merupakan anak dari Raja Kadiri, Prabu Sri Aji Joyoboyo. Prabu Anom yang juga bernama Pangeran Pati ini ke berguru ke dua pendeta yaitu Ki Ageng Dhoho (Pendeta yang tua) dan Ki Ageng Dhoko (Pendeta yang muda), yang mengabdi di Kerajaan Kadiri.
Baca Juga:Tepati Janji Tak Selebrasi Usai Bobol Gawang Persik, Youssef Ezzejjari: Saya Masih Cinta Kediri
Ki Ageng Dhoho diberi tugas untuk menguasai dan menjaga keamanan di sebelah barat Sungai Brantas sedangkan Ki Ageng Dhoko menguasai dan menjaga keamanan di sebelah timur Sungai Brantas.
Prabu Anom atau yang juga disebut Pangeran Pati berguru kepada dua patih (Pendeta) tersebut dalam posisinya sebagai penerus Kerajaan Kediri, namun Prabu Anom meninggal dunia. Hingga kini, lokasi pesarenanya ada di Desa Doko dan selalu diselenggarakan acara saat bulan Suro. [Antara]