- Pemadaman listrik bergilir di Probolinggo menyebabkan kerugian materiil besar bagi para pelaku UMKM akibat kerusakan produk dagangan.
- Produk es krim mencair dan ribuan ikan hias mati karena ketiadaan daya listrik yang mendukung operasional usaha mereka.
- Para pelaku usaha mengeluhkan minimnya informasi jadwal pemadaman serta tidak adanya kompensasi atas kerugian yang telah diderita.
SuaraJatim.id - Bagi Syahrul Ulum, suara senyap dari mesin pendingin di Jalan Mastrip, Kedopok, Probolinggo, adalah lonceng kematian bagi bisnis tempatnya bekerja.
Saat aliran listrik dari PLN mendadak terputus, ia hanya bisa menyaksikan ribuan es krim dan es drop milik Margi, sang pemilik usaha, perlahan berubah wujud dari komoditas bernilai menjadi cairan tak berharga.
Pemadaman listrik bergilir yang melanda Kota Probolinggo dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar masalah kegelapan. Bagi para pelaku UMKM, ini adalah tentang pundi-pundi yang ambyar dan napas usaha yang tersengal.
Di gang sempit Kelurahan Kedopok, Syahrul menunjukkan tumpukan produk yang sudah kehilangan bentuk. Rasa cokelat, stroberi, dan vanila yang seharusnya terpisah cantik, kini bercampur aduk akibat suhu yang naik drastis.
Baca Juga:KADIN Surabaya Geram Listrik Byar Pet Sudah 2 Minggu: UMKM Rugi Besar
"Kalau sudah cair, kualitasnya berubah. Tidak bisa dijual lagi," keluh Syahrul, Selasa (23/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Kerugian yang mereka tanggung bersifat ganda. Selain produk yang rusak, mereka harus meladeni protes dari pelanggan tetap seperti toko dan sekolah yang meminta ganti rugi atau retur. Sialnya, pabrik tidak mau menerima pengembalian produk yang rusak akibat pemadaman.
"Semua kerugian harus kami tanggung sendiri," tambahnya lirih. Dampak ini pun meluas hingga ke rantai distribusi mereka di Bantaran, Kraksaan, hingga Maron.
Bergeser ke Jalan Ir. H. Juanda, suasana serupa dialami Boy. Sebagai penjual ikan hias, listrik baginya adalah nyawa.
Tanpa setrum, aerator yang menyuplai oksigen ke akuarium berhenti berfungsi. Baginya, pemadaman listrik adalah hukuman mati bagi aset dagangannya.
Baca Juga:Sensasi Meniti Awan: Jembatan Kaca Bromo Siap Manjakan Wisatawan Mulai Juni 2026
"Ikan hias sangat manja pada oksigen. Begitu mati lampu, kami harus pontang-panting pakai baterai atau power bank. Kalau tidak siap, ikan mati massal," ujar Boy.
Tak main-main, Boy memperkirakan tingkat kematian ikannya bisa menyentuh angka 40 persen jika pemadaman berlangsung lama.
Dalam sehari, uang ratusan ribu rupiah melayang begitu saja sebelum ikan-ikan cantiknya sempat berpindah tangan ke pembeli.
Di balik kerugian materiil tersebut, terselip kegeraman yang mendalam terhadap kebijakan penyedia jasa listrik. Boy menyentil ketimpangan aturan yang dirasakannya sebagai pelanggan kecil.
"Kalau kami telat bayar sehari saja, denda langsung turun. Tapi ketika listrik padam berjam-jam dan usaha kami rugi jutaan, mana kompensasinya?" protes Boy.
Ketidakpastian ini diperparah dengan minimnya informasi jadwal pemadaman. Para pelaku usaha merasa seperti berjudi dengan waktu, tak tahu kapan mesin mereka harus mati dan kapan mereka harus bersiap dengan skenario darurat.