- Tim gabungan berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di TNBTS sejak 3 hingga 5 Agustus 2026.
- Kebakaran melanda kawasan savana di Kabupaten Probolinggo, Lumajang, dan Malang akibat musim kemarau serta angin kencang.
- Peristiwa tersebut menghanguskan vegetasi, merusak habitat, serta mengancam kelangsungan hidup satwa liar endemik di kawasan konservasi.
SuaraJatim.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya menghanguskan hamparan padang savana, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar yang mendiami kawasan konservasi tersebut.
Sejak pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8/2026), kobaran api hingga Rabu (5/8/2026) masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Api terus membakar kawasan savana yang membentang di wilayah Kabupaten Probolinggo, Lumajang, hingga Malang.
Selain menyebabkan kerusakan vegetasi, kebakaran diduga turut memusnahkan habitat berbagai satwa liar.
Baca Juga:Kebakaran Hutan Hanguskan 4 Hektare Hutan Jati di Jalur Arak-Arak Situbondo
Satwa yang masih berada pada fase berkembang biak, seperti anakan burung dan telur di dalam sarang, diperkirakan menjadi korban karena tidak mampu menghindari cepatnya penyebaran api.
Subur, warga Ranupane yang ikut membantu proses pemadaman bersama tim gabungan, mengatakan dampak kebakaran tidak hanya terlihat dari luasnya area yang terbakar, tetapi juga dari hilangnya ruang hidup satwa di kawasan tersebut.
"Yang terbakar bukan hanya rumput atau pepohonan saja. Banyak burung kecil yang masih anakan belum bisa terbang, termasuk telur-telurnya, ikut terbakar. Kalau burung yang sudah dewasa mungkin masih bisa menyelamatkan diri karena dapat terbang menjauh," kata Subur melansir Beritajatim--jaringan Suara.com, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, kawasan padang savana dan Bukit Teletubbies merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa endemik. Apabila kebakaran berlangsung lebih lama, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem di kawasan TNBTS.
Subur menilai musim kemarau menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran api. Vegetasi yang mengering ditambah embusan angin kencang membuat kobaran api dengan mudah menjalar ke area lain.
Baca Juga:Gunung Gombak Membara 8 Jam: Api Nyaris Jilat Rumah Warga, 15 Hektar Ludes Jadi Abu
"Rumput dan kayu-kayu yang kering sangat mudah terbakar. Gesekan antarbagian pohon yang kering juga bisa memunculkan percikan api," katanya.
Hingga kini, proses pemadaman masih dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas petugas Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan masyarakat sekitar.
Meski demikian, upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya kondisi medan yang terjal, luasnya area yang terbakar, serta perubahan arah angin yang menyebabkan api terus berpindah dan sulit dikendalikan.
Pihak berwenang masih terus berupaya melokalisasi titik api untuk mencegah kebakaran meluas dan meminimalkan dampak terhadap ekosistem serta satwa liar yang masih bertahan di kawasan konservasi tersebut.