- Satreskrim Polres Blitar Kota menyelidiki temuan enam ribu liter Pertalite mengendap di SPBU Kebon Rojo.
- Pengelola SPBU membantah melakukan penimbunan dan berdalih stok ditahan untuk mengatur sif operasional harian.
- Polisi terus menguji kesesuaian alasan pengelola SPBU tersebut dengan regulasi resmi penyaluran bahan bakar bersubsidi.
SuaraJatim.id - Di tengah keluhan masyarakat Kota Blitar yang kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, sebuah fakta mengejutkan terungkap di SPBU Kebon Rojo, Blitar.
Satreskrim Polres Blitar Kota turun tangan menyelidiki temuan sekitar 6.000 liter Pertalite yang dibiarkan mengendap di tangki penyimpanan dan belum disalurkan kepada konsumen.
Temuan ribuan liter bensin yang tak kunjung dijual tersebut sontak memicu tanda tanya besar di tengah publik serta memicu dugaan adanya penyimpangan distribusi.
Kanit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polres Blitar Kota, Ipda Aristoteles Urat Natogu Sirait, menegaskan pihaknya tengah mendalami prosedur operasional standar (SOP) pengelolaan stok di SPBU tersebut guna mengusut indikasi pelanggaran.
Baca Juga:Rencana Hibah Rp2,3 Miliar untuk Kampung Religi Gus Iqdam Disorot DPRD: Ponpes di Blitar Bukan Satu
"Kami masih mendalami SOP di SPBU Kebon Rojo terkait adanya indikasi yang mencurigakan dalam pengelolaan dan penyaluran Pertalite. Penyelidikan terus berjalan untuk memastikan apakah ada unsur kesengajangan atau penyimpangan aturan," tegas Aristoteles dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Kabar mengendapnya 6.000 liter bensin ini pun berbuntut gaduh di media sosial. Menanggapi tudingan miring publik, pihak pengelola SPBU Kebon Rojo akhirnya buka suara dan membantah keras narasi penimbunan bahan bakar.
Manajer Operasional SPBU Kebon Rojo, Hermawan, berdalih bahwa stok ribuan liter tersebut sengaja ditahan bukan untuk mencari keuntungan kenaikan harga, melainkan demi strategi operasional pembagian sif penjualan selama 24 jam.
"Definisi menimbun bagi kami adalah menerima BBM tapi tidak dijual, lalu baru dijual saat harga naik. Kami tidak seperti itu," kilah Hermawan.
Hermawan beralasan, kuota 6.000 liter Pertalite tersebut sengaja dicicil penjualannya ke dalam tiga sif karena keterbatasan lahan antrean di SPBU mereka.
Baca Juga:Tangis Tengah Malam di Balik Tembok: Bayi Merah Ditemukan Menggigil di Tanah Tanpa Sehelai Benang
"Area SPBU Kebon Rojo ini relatif sempit. Kalau kuota langsung digelontorkan sekaligus pada pagi hari, antrean kendaraan langsung meluber dan membuat macet jalan raya utama. Karena itu stok dibagi ke sif berikutnya agar konsumen yang datang siang atau malam tetap kebagian," dalihnya.
Selain alasan kemacetan, Hermawan mengklaim mustahil bagi pihaknya memanipulasi stok BBM subsidi. Pasalnya, seluruh pergerakan volume bensin di tangki bawah tanah dipantau secara real-time oleh Pertamina melalui sistem sensor digital Automatic Tank Gauge (ATG).
"Kami tidak bisa memanipulasi data. Berapa BBM yang masuk dan berapa yang keluar, rincian jam hingga nilai transaksinya terekam otomatis di ATG dan diawasi langsung oleh Pertamina secara online," pungkasnya.
Meski pihak SPBU telah melontarkan klarifikasi teknis, jajaran Satreskrim Polres Blitar Kota menegaskan tidak akan menelan alasan tersebut mentah-mentah.
Polisi kini terus menguji kesesuaian antara alibi pembagian sif pihak pengelola dengan regulasi resmi penyaluran BBM bersubsidi dari pemerintah.