- Total 11.449 hektar lahan di 26 kabupaten/kota terbakar. Kawasan terdampak mencakup Bromo Tengger Semeru dan Gunung Arjuno.
- Medan yang ekstrem di lereng gunung menyulitkan pemadaman karhutla.
- Enam orang petugas dan relawan gugur saat menjalankan tugas pemadaman di Bromo.
SuaraJatim.id - Jawa Timur tak luput dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur dikutip dari laman BNPB kebakaran hutan tahun ini sudah mencapai 11.449 hektar di 26 kabupaten/kota dengan total 184 kejadian.
Sebanyak 77,05 persen kebakaran di antaranya merupakan kawasan hutan konservasi. Beberapa taman nasional ikut terbakar, salah satunya Baluran.
Selain Baluran, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga terakar. Sempat padam Agustus lalu, bulan ini kembali terbakar. Bahkan, ada 6 orang petugas dan relawan menjadi korban meninggal dunia saat memadamkan api dua pekan lalu.
Kabar terbaru, kebakaran di Bromo yang terakhir sudah padam. Pintu akses wisatawan telah dibuka kembali.
Baca Juga:92 Titik Panas Masih Terdeteksi di Gunung Arjuno, Bantuan Water Bombing Dikejar
Sedangkan di Gunung Arjuno sampai sekarang masih belum padam. Informasi yang dihimpun, luas wilayah yang terbakar di sisi Malang sudah mencapai sekitar 816 hektar. Medan ekstrem menyulitkan pemadaman di Gunung Arjuno.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Satriyo Nurseno mengatakan, kebakaran hutan tahun ini memang cukup luas. Beberapa bahkan ada yang mendekati kawasan pemukiman.
"Yang mendekati pemukiman, kemarin itu yang di Bromo itu. Tapi sekarang kan sudah padam, sudah tidak risiko lagi," ujarnya belum lama ini.
Selain Bromo, kebakaran di Gunung Arjuno juga dikabarkan mendekati ke salah satu tempat wisata. "Tapi alhamdulillah masih ada kayak jurang itu, jadi masih memisahkan antara api dengan tempat wisata, jadi masih terpisah," imbuhnya.
Satriyo mengungkapkan, ada beberapa kendala yang membuat pemadaman cukup sulit. Tak hanya medan yang berat, tetapi juga jauhnya akses air. Dia mencontohkan seperti kebakaran di Gunung Bromo, petugas bersama relawan harus mengambil air ke Wonokitri yang jaraknya cukup jauh untuk memadamkan api.
Baca Juga:Korban Tewas Karhutla Bromo Jadi 5 Orang, Relawan MPA Hembuskan Napas Terakhir
Satriyo mengakui peralatan yang dimiliki BPBD Jatim untuk memadamkan karhutla. "Kalau di tempat kita kan kita cuman ada itu truk tangki," ungkapnya.
BPBD Jatim tidak bisa melakukan pengadaan mobil pemadam kebakaran karena tugas dan fungsi bentrok dengan dinas kebakaran dan Satpol PP.
Selama ini pemadaman dilakukan dengan alat seadanya. Beberapa bahkan masih menggunakan peralatan manual. "Jadi yang yang bisa kita lakukan ya manual, itu kayak apa namanya menggunakan gepyok, terus garu, cangkul, sama sprayer," katanya.
BPBD Jatim sebenarnya memiliki drone untuk memadamkan api, namun kapasitas airnya terbatas. Sekali terbang hanya bisa mengangkut sekitar 100 liter air. "Kita ada 2 unit untuk drone pemadam kebakaran tapi dengan biasanya lebih efektif ke titik api yang kecil," ungkapnya.
Karhutla Kebanyakan Ulah Manusia
Satriyo mengakui kebakaran hutan di Jawa Timur kebanyakan merupakan ulang manusia. "Sengaja dibakar," tegasnya.