SuaraJatim.id - Jenazah Nuraini (17) asal Desa Blu'uran Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang yang ditolak warga sekitar saat dikebumikan di sekitar rumahnya sendiri dinilai sebagai penzaliman.
Penolakan dilakukan warga, lantaran almarhumah beserta keluarganya ikut dalam komunitas Syiah yang sempat diusir dari wilayah tersebut.
Koordinator dari penyintas Syiah di Sampang yang saat ini mengungsi di Rusun Jemundo Sidoarjo Tajul Muluk menyebut, bahwa penolakan yang dilakukan oleh warga dinilai sebagai bentuk penzaliman terhadap jenazah.
"Seharusnya penolakan tidak harus terjadi. Jadi ini kezaliman kepada jenazah," ujar Tajul Muluk saat dihubungi SuaraJatim.id, Jumat (30/10/2020).
Tajul mengatakan, penolakan yang dilakukan oleh warga sangat tidak logis. Pasalnya, Nuraini akan dimakamkan di pekarangan rumahnya sendiri.
Ia menilai bahwa warga tak memiliki hak untuk melarang-larang pemilik tanah untuk memakamkan keluarga di tanah yang mereka miliki.
"Meski anggapan mereka beda paham sampai kafir sekalipun, tapi kan mau dikubur di tanahnya sendiri, atas dalil apa mereka melarang? Anggap kalau memang tidak boleh dimakamkan di pemakaman muslim ya sudah kami akan kubur di tanah sendiri, jadi tidak ada alasan (penolakan) itu seharusnya," kata Tajul.
Jenazah NA diketahui telah dimakamkan di pemakaman di Desa Gunung Maddah, Kecamatan Sampang kota.
Tempat pemakaman itu juga dinilai sebagai tempat yang tak layak apabila disebut sebagai makam karena banyak genangan dan menjadi tempat pembuangan.
Baca Juga: Warga Tolak Penguburan Jasad Pengungsi Syiah Sampang di Kampung Halamannya
"Makam itu tidak layak, itu bukan tempat kuburan, itu genangan air di situ, itu tempat uruk-urukan. Terus di sebelahnya sampah. Jadi ini betul-betul tidak layak, kalau hujan jadi genangan air," ungkapnya.
Hal tersebut juga dinilai oleh Tajul sebagai jenazah yang dianggap warga sebuah bangkai yang dibuang di tempat kotor.
"Anjing saja misal mati, atau babi aja boleh dikubur pekarangannya. Jenazah Nuraini ini dianggap sebagai bangkai yang dibuang ditempat kotor," ucapnya.
Ia pun menyayangkan penolakan yang dilakukan oleh warga, pasalnya ia bersama kelompoknya yang sempat syiah sudah kembali ke ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja).
"Sebetulnya kami sudah kembali ke ajaran Ahlusunnah. Jadi saya sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi. Tapi memang masyarakatnya begitu saya tidak bisa berbicara apalagi," katanya.
Kontributor : Arry Saputra
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Kemenkum Tegaskan Penutupan Situs Tak Bisa Asal, Aduan Pelanggaran Hak Cipta Harus Lewati Verifikasi
-
Dwi Bagus Jagal Sadis Madiun: Si Pintar Lulusan ITB Diburu Korporasi Asing dengan Gaji 9 Juta/Hari
-
Detik-detik Honda CR-V Membara di Tol Jomo: Pengemudi 61 Tahun Lolos dari Kepungan Api
-
PG Jatiroto Buka Suara soal Dugaan Penggelapan 75 Ton Gula, Kerugian Pembeli Capai Rp1,2 Miliar
-
Ada 102 Perusahaan: Simak Jadwal, Syarat, dan Link Daftar Job Fair Jatim 2026