SuaraJatim.id - Sebanyak 75 orang jadi korban penipuan perekrutan pegawai. Pelaku berinisial KRH. Ia mengaku memiliki jaringan orang dalam untuk memasukkan orang menjadi pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Puluhan orang yang menjadi korban tersebut melapor ke kepolisian, hingga kemudian Unit Reskrim Polresta Sidoarjo menangkapnya. Selama kurun waktu 1 bulan, pelaku yang berpindah-pindah tempat akhirnya diketahui keberadaannya dan ditangkap.
"Pelaku ini berpindah-pindah tempat untuk melarikan diri. Karena pelariannya sudah dirasa aman dia kembali ke rumahnya di Krian. Saat itu juga pada 28 Desember lalu kami menangkapnya," kata Kasatreskrim Polresta Sidoarjo, Kompol Wahyudin Latif, Jumat (8/1/2021).
75 orang yang menjadi korban dari KRH rupanya berasal dari berbagai wilayah. Wahyudin menyebut ada yang dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik hingga Jombang.
Baca Juga: Resahkan Warga, Spesialis Penggelapan Motor di Bantul Diringkus Polisi
"Dari pengakuan pelaku sudah melakukannya sejak 2019. Pelaku mendapatkan korbannya dari forum yang ada di masyarakat dengan meyakinkan korbannya jika dirinya memiliki jaringan untuk memasukkan pegawai," ujarnya.
Untuk bisa diterima sebagai pegawai, pelaku meminta imbalan uang sebesar Rp 30-50 Juta. Ketika sudah mendapatkan korban cukup banyak kemudian mereka dikumpulkan di sebuah hotel untuk mengerjakan sebuah ujian.
"Korban di hotel diberikan ujian berupa tes tulis sama tes psikologis. Setelah ujian selesai dan dinyatakan lulus diberikan sebuah SK Gubernur Jatim palsu," tambah Wahyudin.
Kasus ini terungkap setelah korban dan kepolisian melakukan kroscek ke kantor BKD mengenai SK yang diberikan pelaku dan menanyakan soal perekrutan.
"Setelah korban menerima SK kemudian melakukan kroscek ke kantor kepegawaian ternyata tidak ada rekrutmen karena semua dilakukan transparan bukan manual seperti di hotel. Sementara pelaku dulu mantan pegawai di pemprov," pungkasnya.
Baca Juga: Dituduh Tipu Pembeli, Tangan Pedagang Pasar Kenari Ditebas Sampai Putus
Sementara itu, KRH mengaku bisa mendapatkan korban yang cukup banyak karena memakai sistem jejaring. Korban satu diminta mencari orang dengan bonus imbalan, sehingga lama-lama korbannya menjadi banyak.
Berita Terkait
-
Kena Penipuan, 78.041 Rekening Nasabah Telan Kerugian Rp 1,4 Triliun
-
CEK FAKTA: Benarkah Ada Kanal Pengaduan Penipuan Online via WhatsApp?
-
Perusahaan Travel Dipolisikan Kasus Penipuan Modus Kode Booking Palsu, Korban Rugi Miliaran Rupiah
-
Apa Itu Card Trapping dan Cara Nasabah BRI Terhindar dari Kejahatan 'Ganjal ATM'
-
Nggak Perlu Takut! Ini 6 Tips Hindari Penipuan Online saat Mudik Lebaran
Terpopuler
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Lisa Mariana Pamer Foto Lawas di Kolam Renang, Diduga Beri Kode Pernah Dekat dengan Hotman Paris
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Chat Istri Ridwan Kamil kepada Imam Masjid Raya Al Jabbar: Kami Kuat..
Pilihan
-
Jadwal Timnas Indonesia U-17 vs Yaman, Link Live Streaming dan Prediksi Susunan Pemain
-
Minuman Berkemasan Plastik Berukuran Kurang dari 1 Liter Dilarang Diproduksi di Bali
-
Nova Arianto: Ada 'Resep Rahasia' STY Saat Timnas Indonesia U-17 Hajar Korea Selatan
-
Duh! Nova Arianto Punya Ketakutan Sebelum Susun Taktik Timnas Indonesia U-17 Hadapi Yaman
-
Bukan Inter Milan, Dua Klub Italia Ini Terdepan Dapatkan Jay Idzes
Terkini
-
Dari Desa untuk Warga, THR dan Jaminan Sosial Wujud Kepedulian Desa Wunut
-
Wanita Probolinggo Ditemukan Tewas Misterius di Pinggir Jalan
-
BRI Sokong UMKM Habbie: Minyak Telon dengan Ragam Aroma Terbanyak untuk Pasar Global
-
Jumlah Wisatawan ke KBS Surabaya Diprediksi Meningkat Hingga Hari Minggu
-
10 Korban Longsor di Jalur Cangar-Pacet Berhasil Ditemukan