Fabiola Febrinastri | Iman Firmansyah
Minggu, 10 Desember 2023 | 13:00 WIB
Gubernur Khofifah saat menghadiri High Level Meeting Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur dengan tema “Refleksi 2023 Serta Prospek dan Tantangan 2024” di Plataran Bromo, Pasuruan, Sabtu (9/12/2023). (Dok: Pemprov Jatim)

SuaraJatim.id - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menekankan bahwa ekonomi jatim saat ini sudah tumbuh inklusif.

Ke depan diharapkan tumbuh secara lebih inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Sehingga bisa berdampak ke berbagai sektor. Yang mana, makna inklusif yang dimaksud ialah menjangkau seluruh aspek masyarakat serta memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat.

Hal tersebut diutarakan Gubernur Khofifah saat menghadiri High Level Meeting Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur dengan tema “Refleksi 2023 Serta Prospek dan Tantangan 2024” di Plataran Bromo, Pasuruan, Sabtu (9/12/2023).

Baca Juga: Gubernur Khofifah Minta Humas Tidak Hanya Jaga Reputasi Tapi Juga Bisa Jadi Referensi

“Ekonomi di Jawa Timur harus tumbuh secara inklusif dan berdampak. Makin tumbuh makin memberikan tetesan kesejahteraan, makin tumbuh akan makin mengurangi pengangguran, serta berdampak penurunan kemiskinan, stunting menurun, dan pendidikan membaik,” katanya.

Gubernur Khofifah juga menyampaikan optimismenya dalam menyongsong perekonomian Jawa Timur di tahun 2024 kelak. Optimisme ini bukanlah tanpa sebab. Ini lantaran selama tahun 2023, pertumbuhan ekonomi Jatim tercatat memuaskan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Jatim pada Triwulan III 2023 tumbuh sebesar 1,79% yang merupakan tertinggi di antara provinsi lain di Pulau Jawa. Jawa Timur juga menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Indonesia sebesar 14,6%. Serta penyumbang perekonomian terbesar kedua pula di Pulau Jawa dengan prosentase 25,56%.

“Pertumbuhan ekonomi Jatim ini berbanding lurus dengan upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di Jatim. Kemiskinan ekstrem di Jatim turun drastis dari tahun 2020 sebesar 4,4% menjadi 0,82% per Maret 2023,” ujarnya.

(Dok: Pemprov Jatim)

Capaian ini tidak terlepas dari beragam program pembangunan di desa-desa. Desa memang menjadi fokus pembangunan sebab selama ini kantong-kantong kemiskinan banyak ditemukan di pedesaan. Salah satu program tersebut ialah desa mandiri dan desa devisa. Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah Desa Mandiri tertinggi di Indonesia.

Baca Juga: Dengan IPM 2023 di Atas Rata-rata Nasional, Gubernur Khofifah Optimistis Jatim Siap Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Jumlah Desa Mandiri di Jatim mencapai 2.800 desa. Jumlah ini berkontribusi 24,44% dari total Desa Mandiri di Indonesia. Begitu pula dengan Desa Devisa. Dari 613 desa devisa di Indonesia, 149 desa atau 24% di antaranya berada di Jatim.

Load More