- Limbah MBG peluang untuk berinovasi, berwirausaha, dan berkontribusi bagi lingkungan
- Eco enzyme bukan sekadar pembersih, tapi bisa dibuat disinfektan, sabun, pupuk cair, hingga pakan magot
- Dapur umum memberikan sisa makanan secara cuma-cuma untuk pakan ternak
Ia mengatakan eco enzyme bukan hanya soal bisnis, itu soal kesadaran kolektif, bagaimana mengubah sampah menjadi bermanfaat, lingkungan menjadi bersih, dan ekonomi pun ikut bergerak.
Kendati demikian, tidak semua dapur MBG mampu mengolah limbah makanan menjadi eco enzyme.
Beberapa dapur umum memberikan sisa makanan secara cuma-cuma ke tetangga untuk pakan ternak.
"Kami ingin generasi muda sadar bahwa setiap bahan memiliki potensi. Limbah makanan bisa jadi eco enzyme, pupuk, atau pakan magot. Itu adalah peluang usaha sekaligus kontribusi bagi bumi," katanya.
Asriafi berharap program seperti itu bisa direplikasi di seluruh Lumajang. Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas muda, dan penggiat inovasi, maka limbah makanan bisa menjadi sumber daya ekonomi dan edukasi lingkungan.
Menurutnya potensi ekonomi dari eco enzyme cukup menjanjikan.
Satu liter eco enzyme bisa dijual dengan harga yang kompetitif, sementara pupuk cair atau pakan magot juga memiliki pasar tersendiri, baik untuk petani maupun pengusaha kecil.
Lebih dari itu, program itu menumbuhkan jiwa wirausaha hijau generasi muda dengan belajar mengelola bisnis sambil peduli lingkungan. Eco enzyme menjadi simbol bagaimana kreativitas bisa mengubah masalah menjadi solusi bernilai.
Asrofi yang juga founder Waroeng Domba 99 dan Rumah Muda Berdaya itu mengajak para pemuda di Lumajang untuk ikut mengolah limbah MBG menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
Baca Juga: Trauma Keracunan! Sampang Perketat Program Makan Bergizi Gratis
Kompos dan pupuk cair
Ide mengolah limbah MBG juga dipraktikkan seorang petani muda yang juga aktif di komunitas lingkungan, Dzaki Fahruddin, yang mengumpulkan sisa makanan dari dapur umum MBG di SPPG Yosowilangun untuk diolah menjadi eco enzyme yang kemudian dijadikan kompos dan pupuk cair.
Selain mengurangi sampah, hasilnya juga bermanfaat untuk pertanian. Ia juga kini sedang mengembangkan limbah itu menjadi produk inovasi lain yang bernilai tinggi
Menurutnya, proses pembuatan eco enzyme sederhana, tapi membutuhkan disiplin.
"Limbah makanan dicacah kecil, dicampur gula merah dan air, kemudian difermentasi selama tiga bulan sebelum menjadi eco enzyme yang siap digunakan," katanya menjelaskan.
Pengolahan limbah MBG bukan sekadar inovasi individu, tapi itu adalah gerakan kolektif yang bisa menginspirasi desa lain untuk memanfaatkan limbah, mengurangi sampah, dan menciptakan peluang ekonomi baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
Tragedi KM Virgo di Masalembo: Tiga Warga Jember Masih Hilang, Petugas Kumpulkan Data Fisik DVI
-
Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
-
Jaga Mama Ya: Pesan Terakhir Mualim KM Virgo Sebelum Hilang di Laut Jawa
-
Teror Cicilan Pinjol, Pemuda di Tulungagung Ditemukan Meninggal Usai Pamit ke Kekasih
-
BRI Ukir Prestasi di Industri Olahraga, Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026