- Seorang siswa berprestasi di Tulungagung terdeteksi terpapar paham radikalisme melalui media sosial dan game online sejak akhir 2025.
- Dinas KBPPPA Tulungagung melakukan pendampingan persuasif untuk memulihkan kondisi psikis anak agar terlepas dari pengaruh ideologi ekstrem berbahaya.
- Hasil pendampingan menunjukkan perkembangan positif berupa perubahan perilaku siswa yang kini kembali fokus mengembangkan potensi akademik dan kemampuannya.
SuaraJatim.id - Di jemari mungil seorang siswa kelas 5 SD di Tulungagung, sebuah telepon genggam bukan sekadar alat bermain. Di balik layar itu, ada dunia yang luas, seru, namun sekaligus menyimpan lubang hitam yang nyaris menelannya yaitu paham radikalisme.
Siswa yang dikenal cerdas, berprestasi secara akademik, dan mahir berbahasa Inggris ini terdeteksi terpapar pengaruh radikal sejak akhir tahun 2025.
Bukan melalui pengajian tertutup atau selebaran gelap, melainkan melalui pintu yang sangat akrab dengan anak-anak bernama game online dan interaksi media sosial.
Kepala UPT Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengungkapkan bahwa keterlibatan anak tersebut bermula dari pencarian jati diri dan kebutuhan akan validasi.
"Kami melihat ada potensi besar di bidang digital pada anak ini. Namun, di usia remaja awal, mereka sangat haus pengakuan. Sayangnya, ruang yang ia masuki adalah grup media sosial yang mulai menyisipkan doktrinasi," ujar Dwi, Senin (18/5/2026).
Hasil pemeriksaan psikologis menunjukkan sebuah fakta lega namun waspada: belum ada kecenderungan radikalisme yang mengakar kuat.
Apa yang terjadi padanya barulah tahap awal, sebuah proses "perkenalan" yang jika dibiarkan, bisa berujung pada ideologi ekstrem yang berbahaya.
Menghadapi jiwa yang sedang goyah, KBPPPA Tulungagung memilih pendekatan humanis. Tidak ada pembatasan keras atau penghakiman yang bisa memicu pemberontakan. Sebaliknya, mereka masuk melalui pintu emosional.
"Kami tidak ingin dia merasa tertekan atau justru memberontak. Pendekatannya persuasif. Kami mengajak dia kembali beraktivitas di luar rumah dan memperbaiki komunikasi di dalam keluarga," jelas Dwi.
Baca Juga: KPK Perpanjang Masa Tahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo
Komunikasi intensif pun dijalin bukan hanya melalui tatap muka, melainkan juga lewat pesan singkat sehari-hari untuk memantau kondisi psikisnya.
Petugas bertindak layaknya sahabat dan orang tua, membantu sang bocah membedakan mana talenta digital yang positif dan mana pengaruh yang merusak.
Siswa tersebut dikabarkan mulai menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Ia menjadi lebih terbuka, komunikatif, dan yang terpenting, kembali menemukan gairahnya dalam kegiatan belajar di sekolah.
Prestasi akademiknya yang gemilang dan kemampuan bahasa Inggrisnya kini diarahkan untuk menjadi modal masa depan, bukan lagi celah bagi doktrin berbahaya.
"Perubahan perilaku ini adalah sinyal positif. Proses pemulihan berjalan sesuai rencana," tegas Dwi Yanuarti. (ANTARA)
Berita Terkait
-
KPK Perpanjang Masa Tahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo
-
Bantal di Balik Semak Kaliwungu Tulungagung: Kisah Pilu Nenek Salmi yang Berpulang dalam Kesunyian
-
Pengasuh di Tulungagung Culik Bayi 17 Bulan, Tertangkap Saat Hendak Seberangi Selat Sunda
-
Kasa Tertinggal di Tubuh: Diskes Tulungagung Kawal Dugaan Malapraktik yang Kini Masuk Ranah Polisi
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bucin! Takut Diputus Cinta oleh Kekasih, Wanita Asal Malang Nekat Bikin Laporan Palsu ke Polisi
-
Sopir Towing Ngantuk di Lajur Cepat, 5 Kendaraan Tabrakan Karambol di Tol Sumo
-
Kabar Duka: Nyai Hj Mahfudhoh Putri Pendiri NU KH Wahab Chasbullah Wafat di Usia 82 Tahun
-
Komplotan Curanmor di Surabaya Gunakan Kode Siulan Saat Beraksi, Tiga Residivis Ditangkap
-
Terjerat Dugaan Pungli, Oknum Lurah di Surabaya Dicopot Jadi Staf Perpustakaan