- Kelompok Pembudidaya Ikan di Keputih, Surabaya, memprotes pembangunan lapangan padel yang dinilai menutup sempadan sungai warga.
- Pengembang Grand Eastern mengklaim pembangunan memiliki izin resmi dan pengecoran dilakukan untuk mencegah erosi sungai.
- Warga melaporkan konflik tersebut ke Ombudsman dan Pemkot Surabaya karena akses normalisasi sungai terhambat bangunan tersebut.
SuaraJatim.id - Di balik riuh rencana pembangunan pusat olahraga modern padel di kawasan Keputih, Sukolilo, tersimpan keresahan mendalam yang dirasakan para petani tambak.
Di atas tanah yang semula menjadi penyangga aliran air, kini hamparan semen cor berdiri kokoh. Bagi pengembang, itu adalah perkuatan namun bagi warga, itu adalah ancaman nyata bagi mata pencaharian mereka.
Setelah sempat memanas akibat aksi protes Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) pada akhir Mei 2026 lalu, pihak pengembang proyek lapangan padel di Jalan Keputih Tegal Timur akhirnya buka suara.
Johan Prajitno, Project Director Grand Eastern sekaligus penanggung jawab proyek, berdiri teguh di atas legalitas. Ia menepis tuduhan bahwa pihaknya telah menyerobot sempadan sungai yang selama ini menjadi urat nadi pengairan tambak warga.
"Kami membangun di atas lahan yang sah secara kepemilikan (SHM). Kedua, pembangunan ini sudah mematuhi izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) mengenai garis sempadan," tegas Johan saat dikonfirmasi, Jumat (29/5/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Bagi Johan, pengecoran di salah satu sisi sungai bukanlah bentuk penyempitan, melainkan upaya bersih-bersih. Ia mengklaim wilayah tersebut tetap memiliki lebar sempadan ideal sekitar 7 meter.
Bahkan, struktur beton itu diklaim sebagai bentuk kepedulian perusahaan untuk mencegah erosi atau longsornya bibir sungai.
"Kami justru membantu banyak. Kita normalisasi, kita keruk, kita buat flood wall (dinding penahan banjir), dan kita beri batu supaya sungai lebih bersih dan lebar," tambahnya, seraya mempertanyakan dasar argumen warga yang menyebut sungai tersebut menyempit.
Namun, di sisi lain sungai, narasi yang berkembang jauh berbeda. Bagi Samsul Ma’arif, Ketua Pokdakan Keputih, setiap senti beton yang menutupi sempadan adalah risiko bencana.
Baca Juga: Penerbangan Rute Surabaya-Jember Resmi Mengudara Lagi 1 Juni 2026, Cek Jadwalnya
Ia membayangkan saat musim hujan tiba, air tak lagi memiliki ruang napas, yang berujung pada jebolnya tanggul tambak dan gagal panen massal.
"Sederhana saja permintaan kami, kembalikan fungsi sempadan tujuh meter itu. Bukakan akses yang tertutup beton agar alat berat bisa lewat untuk normalisasi," ujar Samsul dengan nada getir.
Berdasarkan dokumen Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK), lebar sungai tersebut tercatat 6,5 meter dengan sempadan 7 meter. Kenyataannya di lapangan, Samsul menyebut sempadan itu nyaris tak bersisa untuk akses warga maupun jalur perawatan sungai.
Konflik ini kian meruncing bukan hanya karena persoalan teknis bangunan, melainkan juga komunikasi yang tersumbat.
Samsul mengungkapkan rasa kecewanya karena pihak pengembang absen hingga lima kali dalam undangan audiensi bersama otoritas terkait.
"Kalau memang merasa benar, harusnya datang. Tapi lima kali kita minta pertemuan, mereka tidak pernah hadir," sindir Samsul.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- Daftar Tim Super League Paling Banyak Rekrut Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Jejak Brutal MYF: Pembacok Samurai di Lumajang yang Ternyata Predator Pemerkosa Driver Ojol
-
Detik-detik Kakek Saniman Terhantam CBR Saat Putar Balik di Watudakon Jombang
-
Dulu 17 Ribu, Kini Hanya 7 Ribu: Apa yang Membuat Warga Blitar Takut Punya Anak?
-
Karier Panjang Aiptu EW Anggota Polres Blitar Kota Hancur di Tangan Narkoba
-
Presiden Pimpin Panen Raya TNI Terintegrasi di Malang, Gubernur: Jatim Pilar Utama Ketahanan Pangan