Wakos Reza Gautama
Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:27 WIB
Ilustrasi kebakaran. Kebakaran melanda gudang seluas 2.000 meter persegi di Desa Blimbing, Jombang, pada Jumat dini hari, 12 Juni 2026. [Ist]
Baca 10 detik
  • Kebakaran melanda gudang seluas 2.000 meter persegi di Desa Blimbing, Jombang, pada Jumat dini hari, 12 Juni 2026.
  • Petugas pemadam kebakaran dari tiga pos gabungan dikerahkan untuk memadamkan api yang membakar bangunan sejak pukul 01.35 WIB.
  • Operasi pemadaman dan pembasahan intensif berlangsung selama tujuh jam lebih hingga api benar-benar padam pada pukul 09.00 WIB.

SuaraJatim.id - Pada Jumat (12/6/2026) dini hari, saat sebagian besar warga tengah terlelap, si jago merah mengamuk membakar gudang usaha seluas 2.000 meter persegi di Jalan Raya Blimbing Nomor 95 ludes, Desa Blimbing, Kecamatan Gudo, Jombang.

Lidah api pertama kali terlihat menari-nari dari bagian belakang bangunan sekitar pukul 01.35 WIB. Dalam hitungan menit, material di dalam gudang berukuran 100 x 20 meter itu memicu api membesar dengan cepat, mengancam pemukiman di sekitarnya.

Mendapat laporan darurat pada pukul 01.40 WIB, personel Pos Damkar Ngoro langsung memacu unit fire pumper truck mereka menembus dinginnya malam.

Tiba di lokasi pukul 01.58 WIB, petugas dihadapkan pada pemandangan mencekam, sebagian besar area gudang telah menjadi lautan api.

"Laporan langsung kami tindak lanjuti. Mengingat besarnya area yang terdampak, kami segera mengerahkan kekuatan penuh," ungkap Komandan Damkarla Kabupaten Jombang, Syamsul Bahri dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Sadar bahwa api terlalu besar untuk ditaklukkan sendirian, sebuah operasi gabungan skala besar pun dibentuk. Tiga pos pemadam kebakaran, Ngoro, Jombang, dan Mojoagung, bersatu padu di garis depan.

Tak kurang dari tiga unit fire pumper truck dan dua unit fire supply truck dikerahkan untuk memastikan pasokan air tak terputus.

Bukan hanya petugas pemadam, semangat kolaborasi juga ditunjukkan oleh BPBD Kabupaten Jombang, personel Polsek dan Koramil Gudo, hingga perangkat desa dan warga setempat. Mereka bahu-membahu, membentuk barisan pertahanan agar api tidak merembet ke bangunan lain.

Perang melawan api ini bukanlah perkara mudah. Petugas harus berjibaku selama lebih dari tujuh jam, melakukan pemadaman sekaligus pembasahan intensif di setiap sudut reruntuhan guna memastikan tidak ada titik api tersembunyi yang kembali menyala. Barulah pada pukul 09.00 WIB, setelah matahari mulai meninggi, operasi dinyatakan selesai.

Baca Juga: Istri Pergi Beli Makan, Kakek di Ngawi Tewas Terjebak Kobaran Api di Rumah

Load More