- Harga oli dan ban naik ugal-ugalan, ban meroket hingga lebih dari Rp300 ribu.
- Ekonom menyebut kenaikan harga ini memengaruhi kelas menengah yang semakin terjepit akibat daya beli menurun.
- Butuh peran pemerintah melalui kebijakan fiskal untuk mengungkit daya beli kelas menengah.
SuaraJatim.id - Kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan dari berbagai faktor, mulai dari memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, melemahnya nilai tukar rupiah, hingga sejumlah kebijakan fiskal dalam negeri.
Dampaknya mulai dirasakan masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang harus menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan.
Salah satu sektor yang terdampak adalah komponen otomotif. Harga oli dan ban kendaraan dilaporkan mengalami kenaikan cukup signifikan, bahkan mencapai sekitar 40 persen dalam beberapa bulan terakhir.
Rudi, pemilik bengkel motor di Sidoarjo mengaku lonjakan harga oli menjadi beban tersendiri bagi pelaku usaha maupun konsumen.
"Harga oli yang dulu sekitar Rp60 ribu sekarang sudah Rp80 ribu per liter. Gila mas, naiknya tidak karuan," ujarnya kepada Suara.com, Sabtu (21/6/2026).
Kenaikan harga tersebut memaksa pelaku usaha mengubah strategi pengelolaan stok barang. Rudi mengaku harus mengurangi jumlah pembelian karena modal yang dibutuhkan semakin besar.
"Terpaksa mengurangi stok karena modal untuk belanja berkurang. Sales oli juga begitu. Kalau dulu berani menyimpan sampai 10 dus, sekarang paling lima dus saja," katanya.
Meski harga terus merangkak naik, permintaan oli relatif tidak mengalami penurunan signifikan. Menurut Rudi, konsumen tetap membeli karena penggantian oli merupakan kebutuhan penting untuk menjaga performa mesin kendaraan.
"Daripada mesinnya rusak, pelanggan mau tidak mau tetap membeli. Mereka juga tidak berani mengganti dengan oli yang kualitasnya lebih rendah," ungkapnya.
Baca Juga: Pertamax Melejit, Pejabat Pemkab Lumajang Dilarang Bawa Mobil Dinas
Berbeda dengan oli, perubahan perilaku konsumen terlihat pada pembelian ban. Banyak pemilik kendaraan mulai beralih ke merek yang lebih murah untuk menekan pengeluaran.
"Ban juga naik, terutama ban luar. Kenaikannya bisa sampai Rp50 ribu per unit. Sekarang harganya tembus Rp300 ribu lebih," jelas Rudi.
Kelas Menengah Paling Terdampak
Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya, Hendry Cahyono, menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling merasakan tekanan akibat situasi ekonomi saat ini.
"Kelas menengah ini yang menanggung kenaikan harga barang-barang," kata Hendry saat dihubungi belum lama ini.
Menurutnya, kelompok kelas menengah berada dalam posisi yang sulit karena harus menghadapi kenaikan biaya hidup tanpa diimbangi peningkatan pendapatan yang signifikan. Kondisi ini terutama dirasakan oleh pekerja dengan penghasilan tetap.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
26 Ribu Pekerja Baru di Jawa Timur: Pengangguran Menyusut, Sektor Pertanian Jadi Penyelamat
-
92 Ribu Warga Jatim Lepas dari Kemiskinan, Apa Rahasianya?
-
Lolos ke Final Piala Presiden 2026, Bernardo Tavares Puji Mental Baja Pemain Persebaya
-
Kasus Terduga Pelaku Judi Online Tewas, Lima Personel Polsek Beji Diperiksa Propam
-
Kebakaran Hebat di Blitar, Ibu Luka Bakar Parah Saat Api Tungku Menyambar Bensin