Wakos Reza Gautama
Jum'at, 03 Juli 2026 | 08:02 WIB
Kepala SMP PGRI Sukodono Yunita Wahyuningsih menjelaskan masalah kematian salah satunya siswanya akibat bullying. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Muhammad Ilham, siswa SMP PGRI Sukodono, meninggal dunia pada 24 Juni 2026 akibat luka dalam pasca pengeroyokan.
  • Insiden perundungan terjadi pada 18 Mei 2026 yang dipicu tuduhan masalah sampah oleh dua teman sekelas korban.
  • Mediasi sekolah sempat mencapai kesepakatan damai, namun kondisi kesehatan korban memburuk hingga menyebabkan kematian satu bulan kemudian.

SuaraJatim.id - Di balik riuhnya suasana kelulusan siswa kelas IX, sebuah duka yang menyesakkan dada menyelimuti Desa Jatisari, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang.

Muhammad Ilham (16), remaja yang seharusnya tengah menatap masa depan setelah menyelesaikan ujian sekolah, justru harus beristirahat selamanya dalam sunyi.

Kisah pilu ini bermula dari sebuah aksi perundungan (bullying) di SMP PGRI Sukodono yang awalnya dianggap urusan kecil yang bisa selesai di atas meja mediasi, namun berujung pada maut.

Tragedi ini berakar pada 18 Mei 2026. Hari itu, keceriaan Ilham direnggut oleh dua teman sekelasnya, SLF (16) dan A (16).Hanya gara-gara ada sampah di bawah meja, kedua pelaku menuduh Ilham sebagai pemilik sampah.

Pengeroyokan pun terjadi. Tak lama berselang, pihak sekolah mencoba mengambil jalan tengah. Orang tua korban dan pelaku dipertemukan.

Saat itu, kesepakatan damai tercapai dengan angka yang kini terasa sangat menyayat hati. Hanya dengan Rp60.000, biaya berobat ke puskesmas yang dilaporkan ibu korban, masalah dianggap tuntas.

Setelah mediasi, Ilham tampak baik-baik saja. Ia tetap masuk sekolah, mengikuti ujian, bahkan menyelesaikan studinya.

Namun, maut rupanya sedang bermain petak umpet di balik tempurung kepalanya. Luka dalam di kepala bagian belakang perlahan menggerogoti fisiknya tanpa ada yang menyadari.

"Kami benar-benar tidak menyangka. Setelah mediasi, semua tampak normal. Korban masih sekolah dan ikut ujian sampai lulus," kenang Yunita Wahyuningsih, Kepala SMP PGRI Sukodono, dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Baca Juga: Hanya Karena Sampah: Nyawa Pelajar SMP Lumajang Melayang Usai Dianiaya Teman Sekelas

Satu bulan berselang, tabir itu tersingkap. Kondisi kesehatan Ilham merosot tajam hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit.

Di sinilah nurani kembali diuji. Ketika biaya perawatan membengkak hingga Rp2 juta per hari, itikad baik keluarga pelaku mendadak menguap.

"Kami jemput mereka agar ikut membantu biaya. Tapi setelah tahu biayanya jutaan per hari, mereka enggan menandatangani surat kesediaan membantu," tambah Yunita.

Pihak sekolah akhirnya harus menanggung beban biaya tersebut sendirian, sementara Ilham terus berjuang dalam kritisnya. Pada Rabu, 24 Juni 2026, perjuangan Ilham terhenti. Ia mengembuskan napas terakhir.

Load More