Wakos Reza Gautama
Jum'at, 26 Juni 2026 | 07:43 WIB
Hendra Septyantoro (31), petugas Sensus Ekonomi 2026 menyeberangi aliran lahar Gunung Semeru di Sungai Regoyo, Kamis (25/6/2026). [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Petugas BPS Hendra Septyantoro menantang bahaya aliran lahar dingin Semeru demi mendata unit usaha Sensus Ekonomi 2026.
  • Kegiatan pendataan dilakukan di Dusun Sumberlangsep, Lumajang, pada Kamis 25 Juni 2026 dengan menghadapi medan ekstrem dan cuaca.
  • Akurasi data yang dikumpulkan petugas bertujuan memastikan kebijakan ekonomi serta penyaluran bantuan sosial pemerintah tepat sasaran.

SuaraJatim.id - Aroma belerang yang menusuk hidung tak menyurutkan langkah Hendra Septyantoro (31). Di bawah bayang-bayang puncak Semeru yang perkasa, ia melangkah hati-hati menyeberangi aliran Sungai Regoyo. Bukan untuk berwisata, Hendra sedang bertaruh nasib demi selembar akurasi data.

Hendra adalah potret militansi petugas mitra Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Sensus Ekonomi 2026. Kamis (25/6/2026), tugas membawanya ke Dusun Sumberlangsep, sebuah wilayah terpencil di Desa Jugosari, Lumajang.

Tempat ini bukan sekadar titik di peta. Ini adalah kawasan zona merah yang hanya bisa diakses dengan melintasi jalur utama aliran lahar dingin Gunung Semeru.

“Waspada itu pasti. Di sini jalurnya ekstrem dan tidak ada akses alternatif. Pilihannya cuma satu melintasi aliran lahar atau tugas tidak selesai,” ujar Hendra dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Bagi Hendra, musuh utamanya bukan hanya medan yang berat, tapi juga cuaca. Ia harus bermain dadu dengan waktu. Jika mendung mulai menggelayut di sore hari, banjir lahar bisa datang sewaktu-waktu tanpa peringatan. Strateginya? Berangkat lebih pagi dan pulang sebelum hujan turun.

Namun, urusan lapangan tak sesederhana itu. Dengan target 10 hingga 12 koresponden per hari, Hendra sering kali harus terlibat permainan "kucing-kucingan" dengan warga.

“Kadang harus bolak-balik dua sampai tiga kali ke rumah yang sama karena penghuninya sedang tidak ada atau masih curiga. Kuncinya cuma satu harus tetap ramah,” tambahnya.

Misi yang diemban Hendra dan 1.161 petugas lainnya di Lumajang kali ini memang lebih menantang. Kepala BPS Lumajang, Mochammad Sonhaji, mengungkapkan bahwa Sensus Ekonomi 2026 difokuskan untuk melacak unit usaha yang "tak kasat mata".

Mulai dari jualan online (e-commerce) yang dijalankan dari ruang tamu, hingga jasa konstruksi rumahan yang tak memiliki papan nama. Data-data inilah yang akan menentukan arah kebijakan ekonomi Lumajang ke depan.

Baca Juga: Penambang Pasir Lumajang Terbakar Material Sisa Letusan Gunung Semeru 6 Bulan Lalu

Apa yang membuat Hendra rela bertaruh nyawa di jalur lahar? Baginya, ini bukan sekadar urusan upah. Ada beban moral yang ia panggul di pundaknya. Ia sadar, validitas data yang ia kumpulkan adalah kunci agar bantuan sosial pemerintah tepat sasaran.

“Kalau datanya asal-asalan, yang rugi warga sendiri. Rasa capek itu hilang seketika kalau bayangkan data ini bisa membantu orang yang benar-benar membutuhkan,” ucapnya.

Load More