Wakos Reza Gautama
Sabtu, 07 November 2026 | 19:02 WIB
Camat Dukuh Pakis mencoba kostum karnaval yang sempat menjuarai Jember Fashion Carnaval. (Suara.com/Dimas Angga]
Baca 10 detik
  • Warga RW 2 Gunungsari, Surabaya, berhasil mengubah ribuan gelas plastik bekas menjadi kostum karnaval bernilai jutaan rupiah sejak tahun 2016.
  • Kegiatan produksi kostum yang dipimpin guru bernama Wahono Karyo ini melibatkan ibu-ibu PKK dan Karang Taruna untuk menggerakkan ekonomi.
  • Inisiatif kreatif berbasis gotong royong tersebut berhasil mengantar wilayah itu menjadi kandidat Kampung Pancasila dengan berbagai program sosial.

SuaraJatim.id - Berawal dari kreativitas mengolah gelas plastik bekas menjadi kostum karnaval bernilai jutaan rupiah, warga RW 2 Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya, membuktikan bahwa sampah bukan sekadar persoalan lingkungan.

Di tangan warga yang kreatif dan kompak, barang bekas bisa menjelma menjadi karya seni, membuka peluang ekonomi, menggerakkan pemuda, sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Inilah potret Kampung Pancasila yang tumbuh bukan hanya dari slogan, melainkan dari kerja nyata.

Siapa sangka, ribuan gelas plastik bekas yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi justru bisa menjadi bahan baku karya seni bernilai jutaan rupiah.

Di sebuah sudut RW 2 Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya, tumpukan gelas plastik, botol bekas, hingga berbagai material tak terpakai disulap menjadi kostum karnaval dengan desain unik dan penuh detail.

Ada yang menyerupai sayap burung, ornamen tumbuhan, hingga busana artistik dengan bentuk menyerupai gunung.

Karya-karya itu bukan sekadar pajangan. Sebagian telah melanglang buana dalam berbagai kegiatan dan festival, termasuk Jember Fashion Carnaval (JFC).

Bahkan, kreativitas warga RW 2 Gunungsari pernah mengantarkan mereka meraih penghargaan kostum terunik dalam ajang tersebut pada 2022 dan 2024.

Di balik karya-karya yang tampak megah itu, ada cerita tentang seorang guru Bahasa Indonesia yang memiliki kecintaan besar terhadap seni, ibu-ibu yang telaten mengolah bahan bekas, serta anak-anak muda Karang Taruna yang tidak hanya belajar membuat kostum, tetapi juga berlatih menjadi model peraga busana.

Sosok di balik kreativitas tersebut adalah Wahono Karyo. Guru SMP Negeri 4 Surabaya itu menjadi penanggung jawab produksi sekaligus desain kostum.

Baca Juga: Janjikan Jalur Khusus Masuk Kejaksaan, Oknum Advokat di Surabaya Gasak Duit Korban Rp520 Juta

Berbekal ketertarikan terhadap dunia seni, Wahono mengembangkan kegiatan yang awalnya hanya berangkat dari rasa penasaran terhadap festival karnaval menjadi sebuah aktivitas produktif yang melibatkan masyarakat.

Perjalanannya tidak terjadi dalam semalam. Wahono mulai tertarik dengan dunia kostum karnaval setelah menyaksikan langsung kemeriahan karnaval di Jember pada 2015.

Pengalaman tersebut membuka pandangannya bahwa kostum karnaval bukan sekadar pakaian dengan ornamen mencolok, melainkan karya seni yang membutuhkan kreativitas, ketelitian, pemahaman warna, serta keterampilan mengolah material.

Setahun kemudian, pada 2016, ia mendapat kesempatan mengikuti workshop pembuatan kostum secara gratis melalui komunitas Danis Faris.

Di sana, ia belajar berbagai teknik, mulai dari pembuatan desain, pemilihan bahan, kombinasi warna atau color ring, hingga proses membangun bentuk dan karakter kostum. Ilmu tersebut kemudian dibawa pulang dan dikembangkan bersama warga.

"Awalnya tahun 2015 saya mencoba melihat karnaval di Jember. Kemudian pada 2016 saya ikut workshop secara gratis. Di sana kami dilatih membuat kostum, termasuk mempelajari lingkaran warna, pemilihan bahan, dan sebagainya," tutur Wahono.

Load More