Cerita Dari Masalembu, 'Segitiga Bermuda' di Laut Jawa

Chandra Iswinarno
Cerita Dari Masalembu, 'Segitiga Bermuda' di Laut Jawa
Nelayan di Desa Campor Timur saat membawa hasil tangkapannya untuk dijual. [Suara.com/M Madani]

Perairan Masalembu sendiri berada di antara Pulau Masalembu, Masakambing dan Karammian yang berada di kawasan kabupaten paling timur Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumene

Suara.com - Kecelakaan laut hingga memakan banyak korban seringkali terjadi di Perairan Pulau Masalembu Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Tak mengherankan, jika banyak orang menganggap fenomena tersebut selayaknya Segitiga Bermuda di Kepulauan Karibia, hingga kekinian kerap disebut Segitiga Masalembu.

Perairan Masalembu sendiri berada di antara Pulau Masalembu, Masakambing dan Karammian yang berada di kawasan kabupaten paling timur Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep.

Perairan ini mulai dikenal lantaran fenomena peristiwa kecelakaan laut yang menarik perhatian publik dan disebut-sebut sudah terjadi sejak tahun 1980-an. Apalagi sebelum mercusuar masuk di Masalembu, tabrakan antarkapal, baik kapal besar maupun perahu nelayan sudah menjadi langganan.

Dari catatan Suara.com, setidaknya ada sembilan kapal besar yang tercatat mengalami kecelakaan laut di Perairan Masalembu. Salah satu yang menjadi fenomenal adalah kecelakaan laut Kapal Tampomas II yang mengalami kebakaran dan tenggelam pada Tahun 1981.

Seorang nelayan yang pernah melalui Perairan Masalembu, Misnawi menjelaskan ada karakteristik yang berbeda dengan perairan lainnya. Misnawi mengemukakan warna air laut di Perairan Masalembu berbeda dengan warna air laut di perairan lainnya.

Misnawi menyebut, jika pada umumnya warna air laut biru, seperti pada umumnya air laut, akan tetapi di Masalembu warna air laut biru kehitaman.

"Begitu pula dengan ombaknya. Ombak di sana (Masalembu) itu cukup besar saat berada di tengah, kalau di tepi laut biasa-biasa saja" kata Misnawi saat ditemui suara.com di pesisir Desa Campor Timur Kecamatan Ambunten pada Kamis (29/08/2019).

Soal fenomena Segitiga Masalembu, Misnawi tidak tahu secara pasti mitos tersebut. Namun, ia mempercayai setiap laut pasti ada penjaga. Oleh karena itu, rata-rata nelayan melakukan 'rokat tase' atau sedekah laut.

Hal itu dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan, dan untuk memohon berkah rezeki serta keselamatan berlayar yang dilakukan oleh para nelayan.

"Para nelayan itu, biasanya percaya bahwa setiap laut ada penghuninya, makanya kemudian ada rokat tase', sebagai bentuk syukuran dan memohon pertolongan pada sang Kholiq," jelasnya.

Sementara itu, Warga Masalembu, Hidayat mengatakan Perairan Masalembu tidak seangker yang dibayangkan banyak orang. Meski perairannya dikenal dengan ombak yang cukup tinggi, tetapi Warga Masalembu menganggapnya hal itu biasa.

Diakuinya, walau angin kencang dan ombak besar, Nelayan Masalembu tetap melaut. Lantaran menjadi nelayan adalah sumber pencaharian utama bagi penduduk setempat. Apalagi, Warga Masalembu didominasi suku Mandar dan Bugis yang dikenal tangguh saat melaut.

"Kalau suku Bugis dan Mandar itu tidak percaya adanya larangan tidak boleh melaut, kalau suku Madura masih patuh jika ada larangan dari BMKG atau Pemerintah" kata Hidayat ketika dihubungi via handphone.

Terkait fenomena Segitiga Masalembu, Hidayat menilai hal itu hanya dikait-kaitkan saja karena sering terjadi peristiwa kecelakaan laut di perairan tersebut.

"Kalau masyarakat disini kurang yakin hal-hal begituan," ungkapnya.

Senada dengan Hidayat, seorang tokoh di Masalembu, Yanto mengungkapkan, fenomena Segitiga Masalembu hanya mitos yang tak bisa dipercaya, sebab kecelakaan yang terjadi murni musibah akibat kelalaian dari tangan manusia.

"Kita hidup di zaman hari ini seharusnya tak percaya akan adanya itu mas, Kita tidak mau Masalembu itu dianggap pulau yang angker, buktinya kita di sini biasa-biasa saja," tegasnya.

Kontributor : Muhammad Madani

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS