alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Tak Bisa Pulang, Diplomat Afghanistan di Eranya Ghani Minta Dunia Tak Akui Taliban

Muhammad Taufiq Jum'at, 17 September 2021 | 06:30 WIB

Tak Bisa Pulang, Diplomat Afghanistan di Eranya Ghani Minta Dunia Tak Akui Taliban
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berbicara dalam konferensi pers di Kabul, Afganistan, Senin (6/9/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/aww/cfo (REUTERS/STRINGER)

Sekelompok diplomat Afghanistan di eranya Ashraf Ghani meminta para pemimpin dunia tidak mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan.

SuaraJatim.id - Sekelompok diplomat Afghanistan di eranya Ashraf Ghani meminta para pemimpin dunia tidak mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan.

Mereka mengeluarkan pernyataan bersama dan menyerukan kepada dunia. Para diplomat yang pemerintahannya digulingkan Taliban itu justru mencela para pemimpin negara sekutu mereka karena "membiarkan rakyat Afghanistan berada di bawah belas kasihan sebuah kelompok teroris."

Seperti dikutip dari Reuters, pernyataan ini dirilis ke publik dan ditandatangani oleh puluhan pejabat yang beroperasi dalam semacam upaya diplomatik.

Para diplomat Afghanistan itu kini berstatus tanpa pemerintah. Mereka diwakili kepentingan dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Turki, dan sejumlah negara lain.

Baca Juga: Wanita Afghanistan Mulai Berontak, Ramai-ramai Unggah Baju Tradisional di Twitter

Para diplomat yang menandatangani surat pernyataan dengan kata-kata keras itu semuanya berpangkat di bawah duta besar.

"Kami berkecil hati bahwa setelah 20 tahun keterlibatan, para sekutu kami meninggalkan Afghanistan dan meninggalkan rakyat kami di bawah belas kasihan kelompok teroris," demikian pernyataan para diplomat itu, dikutip dari Antara, Kamis (17/09/2021).

Surat pernyataan tersebut juga meminta para pemimpin dunia untuk menggunakan semua cara yang tersedia untuk menghentikan kekerasan Taliban terhadap perempuan, aktivis masyarakat sipil dan jurnalis.

Surat itu juga menyampaikan peringatan tentang implikasi global dari penggulingan pemerintah Afghanistan oleh Taliban.

"Keberhasilan Taliban dalam merebut kekuasaan melalui cara-cara ilegal dan kekerasan ... memberanikan kelompok teroris dan ekstremis kekerasan di seluruh dunia," tulis para diplomat Afghanistan itu.

Baca Juga: Gara-gara Taliban, Timnas Sepakbola Wanita Afghanistan Kabur ke Pakistan

Mereka juga menambahkan bahwa pengambilalihan kekuasaan dengan tindak kekerasan berarti "menormalkan kekerasan."

Jawad Raha, sekretaris pertama di kedutaan besar Afghanistan di Washington, mengatakan kepada Reuters bahwa pos terdepannya masih beroperasi.

Para diplomat di sana berfokus pada penyediaan layanan bagi warga Afghanistan yang tinggal di Amerika Serikat dan menarik perhatian dunia pada situasi di Afghanistan.

Raha mengatakan kedutaan telah menurunkan foto Ashraf Ghani setelah dia tiba-tiba meninggalkan kursi kepresidenan, meninggalkan negara itu pada 15 Agustus, dan meninggalkan Kabul hingga dikuasai Taliban.

"Kami semua kecewa, seperti kedutaan-kedutaan lainnya, (atas) cara dia (Ghani) meninggalkan negara," kata Raha.

Ghani pada pekan lalu mengatakan dia pergi karena dia ingin menghindari pertumpahan darah dan membantah tuduhan dia mencuri jutaan dolar dalam perjalanannya keluar Afghanistan.

Pernyataan para diplomat Afghanistan itu juga menyerukan pembentukan misi pencari fakta internasional yang independen di Afghanistan "untuk memastikan keadilan dan akuntabilitas."

Pernyataan tersebut juga menyerukan agar para pemimpin dunia mengkonsolidasikan upaya untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang inklusif dan dinegosiasikan di Afghanistan, yakni pemerintahan "yang dapat diterima oleh semua orang Afghanistan, termasuk perempuan dan minoritas."

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait