Warga Mojokerto Terima Beras BPNT Tak Layak Konsumsi, Remuk dan Berkutu

Kualitas beras program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang diterima warga di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto sangat buruk.

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan
Senin, 22 Agustus 2022 | 16:31 WIB
Warga Mojokerto Terima Beras BPNT Tak Layak Konsumsi, Remuk dan Berkutu
Kondisi beras BPNT remuk dan berkutu yang diterima KPM di Desa Mojorejo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.[SuaraJatim/Zen Arivin]

SuaraJatim.id - Sejumlah keluarga penerima manfaat (KPM) program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto menerima beras kualitas buruk. Tak hanya remuk, namun beras yang diterima KPM juga berkutu.

Seperti yang disampaikan warga KPM asal Desa Mojorejo, Kecamatan Kemlagi berinisial L. Kualitas beras yang diterimanya sangat buruk dan tak laik konsumsi. Sebab, beras sebanyak 30 Kilogram (Kg) yang dicairkan dari Agen BPNT itu, sekitar 70 persen menir.

"Berasnya remek (remuk), baunya juga apek. Sampai sekarang belum dimasak," kata Li saat ditemui di rumahnya, Senin (21/8/2022).

Pria berusia 37 tahun ini menuturkan, beras bantuan itu dicairkan melalui Agen BPNT di Desa Mojokumpul, pada Minggu (21/8) kemarin. Dari besaran bantuan Rp 400 ribu, ia mendapatkan 30 Kg beras, 2 Kg telur serta beberapa bahan pangan lainnya.

Baca Juga:Kecelakaan Tragis di Mojokerto, Kakak dan Adiknya Tewas Terlindas Truk Elpiji

"Berasnya itu 1 sak isi 25 Kg dan 5 Kg ditaruh di kresek (plastik). Katanya harga perkilonya Rp 10.000. Kondisinya ya kayak gitu, remek," ungkap Li sembari menunjukan kualitas beras yang diterima.

Berdasarkan pantauan Suara.com di lapangan, Li menerima beras BPNT dalam dua kemasan. Sebanyak 25 Kg dikemas dalam sak dengan merek Raja Lele. Sedangkan sebanyak 5 Kg dikemas dalam kantung plastik putih.

Tak hanya remuk, namun beras yang diterima Li juga dipenuhi kutu. Meski berwarna putih, namun kondisi beras juga kotor, jauh dari standar kualitas yang ditetapkan pemerintah meski dengan harga standard di pasaran.

Tak hanya Li, beras dengan kualitas buruk juga diterima oleh KPM lain berinisial A warga Desa Mojodadi. Sang anak yang berinisial D mengatakan, beras BPNT yang diterima kualitasnya jelek dan patah-patah.

"Berasnya apek, g enak di masak. Kalau di masak, besok pagi gitu warnanya berubah kuning. Kemarin beli berasnya harga Rp 10.000. Sebenarnya ada yang harga Rp 10.500 tapi kemarin habis," ucap wanita berusia 25 tahun itu.

Baca Juga:Razia Prostitusi, Polisi Amankan Tiga Pasangan Kumpul Kebo di Mojokerto, Ada yang Sambil Pesta Miras

Wanita berkulit kuning langsat ini menuturkan, jika dilihat dari kualitas yang diterima, harga beras tersebut harusnya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga yang dibanderol di Agen BPNT.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini