Disebutkan dari 17 pasien di RSUP Prof. Ngoerah didominasi oleh balita dan empat pasien dengan usia di atas 6 tahun, 11 di antaranya meninggal dunia, satu anak melakukan perawatan dan lima lainnya sudah dapat beraktivitas dan menjalani pemeriksaan rutin.
Rata-rata mereka meninggal dalam keadaan fungsi ginjal sangat terminal, yang di sebut gagal ginjal akut. "Susah kalau sudah keadaan itu," katanya.
Laju filtrasi glomerulus normalnya di atas 90 ml/menit/1,73 meter kuadrat, sedangkan mereka datang di bawah 15 ml/menit/1,73 meter kuadrat. Di tengah maraknya kasus gagal ginjal akut misterius yang menyerang ratusan anak di Indonesia secara mendadak ini, Sanjaya menekankan bahwa penyakit ini berbahaya.
Sebab, angka kematian kasus AKI cukup tinggi sehingga perlu waspada dan melakukan deteksi sedini mungkin. Kalau ada gejala infeksi saluran cerna dan tidak kencing harus segera diperiksa karena akan berdampak berat kalau harus cuci darah sampai terminal berat bisa meninggal.
Baca Juga:Tim Labfor Mabes Polri Teliti Sampel Pasien Korban Gagal Ginjal Akut
Jangan panik
Dokter spesialis anak konsultan Prof. Dr. dr. Sudung O. Pardede, meminta masyarakat tidak panik menyikapi kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal yang terjadi di Indonesia.
Para tenaga kesehatan tentu akan melakukan yang terbaik untuk penanganan anak-anak dengan gangguan ginjal tersebut. Selain itu, pemerintah juga sudah mengambil kebijakan terkait penarikan obat sirop yang bertujuan untuk mencegah agar tidak muncul lagi kasus-kasus baru.
Orang tua dapat mencari alternatif obat selain obat sirop untuk sementara waktu di samping tetap menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan.
Pihaknya mengingatkan bahwa belum tentu semua obat sirop mengandung zat yang diduga menyebabkan gangguan ginjal akut sehingga orang tua diminta untuk tidak panik.
Bagi orang tua yang sudah telanjur memberikan obat sirop pada anak yang masuk dalam daftar yang ditarik peredarannya oleh pemerintah, orang tua diminta memantau kondisi anak terlebih dahulu terutama memastikan jumlah urine yang diproduksi.