- Puluhan warga Sidodadi, Surabaya, diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap nasi berkat dalam acara selamatan pada 31 Maret 2026.
- Sebanyak 22 warga dilaporkan mengalami kondisi fisik sangat lemas dan empat di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit.
- BPBD Surabaya telah menerjunkan tim medis serta masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti peristiwa keracunan tersebut.
SuaraJatim.id - Niat hati ingin memanjatkan doa bagi tetangga yang telah berpulang, puluhan warga di kawasan Sidodadi, Simokerto, Surabaya, justru harus berurusan dengan ranjang rumah sakit.
Sebuah acara selamatan kenduri yang seharusnya penuh khidmat, berubah menjadi "bom waktu" kesehatan yang melumpuhkan satu per satu warga.
Peristiwa ini bermula pada Selasa (31/3/2026) lalu, saat warga berkumpul untuk memperingati tujuh hari wafatnya salah satu penghuni lingkungan tersebut.
Namun, nasi "berkat" yang dibawa pulang malam itu diduga kuat menjadi pemicu petaka yang baru disadari dampaknya beberapa hari kemudian.
Baca Juga:Apesnya Jambret di Surabaya: Terjebak Macet, Ditinggal Kawan, Berakhir Jadi "Samsak Hidup"
Gejala keracunan ini tidak meledak seketika. Sehari setelah acara, tepatnya pada Rabu (1/4/2026), beberapa warga mulai merasakan tubuh mereka mendadak tak bertenaga.
Namun, karena gejalanya tergolong unik, yakni hanya lemas luar biasa tanpa disertai muntah-muntah, banyak warga yang menganggapnya sebagai kelelahan biasa.
Baru pada Sabtu (4/4/2026) siang, situasi berubah menjadi darurat. Kabar mengenai warga yang bertumbangan mulai menyebar cepat dari satu pintu ke pintu lainnya. Pengurus lingkungan pun terperanjat mendapati jumlah korban yang terus bertambah.
"Awalnya kami hanya tahu satu dua orang saja pada Jumat siang. Tapi ternyata hari ini (Sabtu) semakin banyak yang melapor," ungkap Arif, Ketua RT setempat dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya menunjukkan skala dampak yang cukup luas. Sebanyak 22 warga dilaporkan terdampak, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.
Baca Juga:TPS Surabaya Catat Pertumbuhan Month-on-Month, Kontribusi Internasional Jadi Penopang
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Surabaya, Linda Novanti, mengonfirmasi bahwa tim medis telah diterjunkan untuk menangani para korban. Empat orang terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang mengkhawatirkan.
"Dua orang dirawat di RS Soewandhie, satu orang dibawa ke RS PHC, dan satu lainnya dirawat di RS Al Irsyad. Sementara 18 warga lainnya diperbolehkan menjalani rawat jalan," jelas Linda.
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam kasus ini adalah karakteristik gejalanya. Berbeda dengan keracunan makanan pada umumnya yang identik dengan mual dan muntah hebat, warga Sidodadi justru melaporkan kondisi tubuh yang mendadak "kosong" dan lemas.
"Muntah tidak ada, hanya badan terasa sangat lemas," imbuh Arif menirukan keluhan warganya.
Hingga saat ini, pihak terkait masih menyelidiki kandungan dalam makanan selamatan tersebut untuk memastikan penyebab pasti keracunan massal ini.