Dijual Rp400 Juta: Horor Penyekapan Warga Jepang di Markas Scamming Surabaya

Polrestabes Surabaya mengungkap sindikat scamming internasional

Wakos Reza Gautama
Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:48 WIB
Dijual Rp400 Juta: Horor Penyekapan Warga Jepang di Markas Scamming Surabaya
Para tersangka sindikat scamming internasional saat digiring di halaman Polrestabes Surabaya. [suara.com/dimas angga]
Baca 10 detik
  • Polrestabes Surabaya mengungkap sindikat scamming internasional dan mengamankan 44 tersangka warga negara asing serta Indonesia pada Mei 2026.
  • Sindikat ini merekrut dua warga Jepang melalui media sosial untuk dipaksa bekerja sebagai operator penipuan online di Surabaya.
  • Para korban disekap dan diancam di beberapa lokasi berbeda sebagai bagian dari operasi kejahatan lintas negara yang terorganisir.

SuaraJatim.id - Kasus dugaan penculikan dan penyekapan dua warga negara Jepang di Surabaya membuka tabir jaringan scamming internasional lintas negara yang beroperasi di Indonesia.

Dalam pengungkapan besar ini, Polrestabes Surabaya mengamankan total 44 warga negara asing dan WNI yang diduga terlibat dalam sindikat penipuan online internasional.

Kasus ini bermula dari laporan staf Konsulat Jepang di Surabaya terkait hilangnya dua warga negara Jepang yang diduga disekap di Surabaya.

Dari laporan tersebut, polisi bergerak melakukan penyelidikan hingga menemukan kedua korban di sebuah rumah kontrakan di Jalan Dharma Husada Permai VII Blok N-318 Surabaya.

Baca Juga:Teka-teki Kerangka Manusia Mengering di Area Tambak Surabaya

Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengungkapkan, selain menemukan dua korban, polisi juga mendapati barang-barang yang diduga digunakan untuk praktik penipuan online atau scamming.

“Di lokasi itu juga ditemukan tiga warga negara China, empat warga negara Jepang lainnya, dan dua WNI yang kemudian kami lakukan penangkapan dan pemeriksaan lebih lanjut,” kata Luthfie dalam press release, Jumat (8/5/2026).

Dari hasil pemeriksaan, rumah tersebut diketahui telah dikontrak sejak dua tahun lalu oleh tersangka berinisial E, warga negara Indonesia.

Polisi kemudian mengembangkan penyelidikan dan menemukan adanya lokasi kedua di Jalan Embong Kenongo Nomor 24 Surabaya yang diduga menjadi markas operasi sindikat.

Menurut polisi, lokasi kedua itu sebelumnya dihuni dan digunakan sebagai pusat operasi scamming oleh 32 warga negara China. Namun saat penggerebekan lokasi pertama terjadi, para pelaku berpencar dan berpindah ke enam hotel di Surabaya.

Baca Juga:Drama Penyekapan Lansia di Surabaya: Uang Rp2 Miliar Dikuras Kekasih Anaknya Sendiri

“Salah satunya di Hotel M berhasil diamankan enam warga negara Jepang yang dikendalikan warga negara China,” ujar Luthfie.

Penyelidikan terus berkembang. Polisi kemudian bergerak ke Kaza Mall Surabaya dan mengamankan 19 orang terdiri dari 17 warga negara China dan dua warga negara Taiwan.

Tak berhenti di situ, polisi kembali menemukan dugaan lokasi ketiga di Jalan Raya Dharma Permai I Nomor 79 Surabaya.

Meski lokasi sudah kosong, polisi berhasil memburu salah satu pengelola lokasi tersebut berinisial J, warga negara China, di rest area wilayah Semarang.

“Bersama yang bersangkutan juga diamankan enam warga negara China lainnya,” tambahnya.

Pengembangan berikutnya mengarah ke Solo hingga Bali. Di Bali, polisi kembali menangkap lima warga negara Taiwan dan enam warga negara China yang diduga masih satu jaringan.

“Sampai saat ini jumlah tersangka warga negara asing yang berhasil kami tangkap dan lakukan penahanan sebanyak 44 orang (41 WNA dan 3 WNI),” tegas Luthfie.

Polisi mengungkap, dua korban warga Jepang awalnya direkrut melalui komunikasi di aplikasi Threads dan e-signal oleh akun bernama “Kurokawa”. Korban dijanjikan perjalanan wisata gratis Vietnam–Kamboja serta pekerjaan bisnis di Indonesia.

Korban bahkan diperlihatkan tiket pesawat pulang-pergi yang diduga fiktif dan booking hotel di Jakarta untuk meyakinkan mereka.

Korban pertama diketahui bekerja sebagai ladies companion (LC) di Vietnam, sedangkan korban kedua bekerja sebagai admin dokumen. Keduanya dijanjikan tiket Jepang–Indonesia gratis.

Namun setibanya di Indonesia, korban justru dibawa ke Surabaya dan dipaksa bekerja sebagai operator scamming.

Korban mengaku mendapat ancaman serius apabila menolak bekerja. Mereka disebut telah “dijual” kepada dua tersangka berinisial ZQ alias Shion dan ZX alias Akai senilai 25 ribu dolar AS atau sekitar Rp400 juta.

Selain paspor dan alat komunikasi dirampas, korban juga diancam akan dipindahkan ke tempat yang lebih buruk hingga dijual organ tubuhnya apabila terus meminta pulang.

Kabag Kejahatan Transnasional dan Internasional Set NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri Ricky Purnama menyebut kasus ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan Indonesia mulai digunakan sebagai basis operasi sindikat penipuan internasional.

“Ini mengindikasikan bahwa Indonesia sudah digunakan sebagai tempat aktivitas berkembangnya kejahatan internasional dengan organisasi sindikat internasional yang melibatkan beberapa kewarganegaraan,” ujarnya.

Menurut Ricky, kasus di Surabaya memiliki pola yang mirip dengan pengungkapan kasus scam internasional di Bogor, Bali, hingga Batam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Indikasinya semua kasus yang diungkap dalam lima TKP terpisah ini melibatkan sindikat jaringan kejahatan scam internasional,” katanya.

Ia menjelaskan, para pelaku biasanya menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook dengan tampilan menarik untuk menjaring korban.

“Dari platform itu biasanya berkomunikasi via DM, lalu diajak pindah ke Telegram atau WhatsApp. Di situlah hubungan asmara dieksploitasi dengan janji investasi atau aktivitas keuangan lain,” ujarnya.

Selain modus love scam, sindikat juga menggunakan modus penyamaran aparat penegak hukum asing untuk menakut-nakuti korban dan meminta transfer uang.

“Ada juga yang menawarkan investasi, penjualan barang di platform online, hingga berpura-pura menjadi aparat kepolisian asing,” ungkap Ricky.

Polrestabes Surabaya bersama Interpol dan sejumlah instansi terkait kini masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap jaringan internasional tersebut, termasuk menelusuri korban-korban lain yang diduga berada di Jepang dan China.

Kontributor : Dimas Angga Perkasa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak