- Karhutla di kawasan TNBTS Probolinggo meluas hingga 176 hektare sejak pertama kali terdeteksi pada 3 Agustus 2026.
- Gubernur Khofifah meninjau lokasi pada 7 Agustus 2026 dan mengerahkan personel darat, helikopter, serta drone pemadam.
- Kepala Balai Besar TNBTS menyatakan dugaan awal kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia di jalur tradisional tebing.
SuaraJatim.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, meluas hingga sekitar 176 hektare. Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat operasi pemadaman dengan mengerahkan personel di darat serta dukungan udara berupa helikopter water bombing dan drone.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung penanganan karhutla tersebut pada Jumat (7/8/2026). Dalam peninjauan itu, Khofifah memastikan upaya pemadaman terus dimaksimalkan melalui kolaborasi lintas instansi.
Khofifah mengatakan, operasi udara diperlukan karena sebagian titik api berada di medan yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Selain membantu menjatuhkan air ke titik api, drone juga digunakan untuk memantau persebaran kebakaran sehingga strategi pemadaman dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Didampingi Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto dan Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja, Khofifah melihat langsung proses pengoperasian drone water bombing di kawasan terdampak.
Baca Juga:Karhutla TNBTS Meluas, Kondisi Habitat Satwa Endemik Terancam
“Terima kasih relawannya banyak sekali, Manggala Agni, relawan pecinta hutan, pecinta gunung di sekitaran Bromo semua punya peran yang luar biasa. TNI/Polri juga mengerahkan pasukannya. Support mereka mudah-mudahan mempercepat semua proses recovery,” ujar Khofifah melansir Beritajatim--jaringan Suara.com, Sabtu (8/8/2026).
Luas Kebakaran Melonjak
Khofifah menjelaskan, kebakaran pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8/2026) dengan luas area terdampak sekitar 7,9 hektare.
Namun, luasan tersebut terus bertambah dalam beberapa hari berikutnya. Area terdampak sempat mencapai sekitar 44 hektare dan berdasarkan perkembangan terakhir pada Jumat pagi telah meluas menjadi sekitar 176 hektare.
Melihat perkembangan tersebut, Pemprov Jatim sejak hari kedua kebakaran berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan dukungan helikopter water bombing berkapasitas sekitar 1.000 liter.
Baca Juga:Bromo Membara di Blok Bantengan: Jalur Jemplang-Senduro Ditutup
“Sejak hari kedua saya sudah berkoordinasi dengan BNPB agar penanganan diperkuat melalui dukungan helikopter water bombing. Alhamdulillah mulai hari Jumat (7/8) helikopter dari Kalimantan Tengah sudah tiba dan mulai mendukung proses pemadaman,” kata Khofifah.
Selain helikopter, pemadaman diperkuat dengan drone water bombing yang mampu membawa sekitar 100 hingga 150 liter air dalam setiap penerbangan.
Menurut Khofifah, kombinasi pemadaman melalui jalur darat, helikopter, dan drone diharapkan dapat mempercepat pengendalian api, terutama pada titik-titik yang sulit dijangkau personel.
Dua Helikopter Disiapkan
Khofifah mengatakan, satu helikopter tambahan dari BNPB dijadwalkan tiba pada Sabtu (8/8). Dengan tambahan tersebut, dua armada helikopter diharapkan dapat dioperasikan secara maksimal apabila kondisi cuaca mendukung.
“Hari ini akan datang lagi heli perbantuan dari BNPB. Kalau ada dua armada heli water bombing, semoga anginnya bisa landai sehingga dua heli bisa memaksimalkan melakukan water bombing dan pemadaman hari ini, Sabtu (8/8),” ujarnya.