- Karhutla di kawasan TNBTS Probolinggo meluas hingga 176 hektare sejak pertama kali terdeteksi pada 3 Agustus 2026.
- Gubernur Khofifah meninjau lokasi pada 7 Agustus 2026 dan mengerahkan personel darat, helikopter, serta drone pemadam.
- Kepala Balai Besar TNBTS menyatakan dugaan awal kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia di jalur tradisional tebing.
Namun, operasi pemadaman dari udara masih bergantung pada kondisi cuaca. Kecepatan angin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi operasional helikopter karena berkaitan dengan keselamatan penerbangan.
“Water bombing sudah mulai dilaksanakan. Namun ketika angin bertiup cukup kencang, operasional helikopter harus menyesuaikan kondisi demi keselamatan. Karena itu strategi pemadaman terus disesuaikan dengan situasi di lapangan,” jelas Khofifah.
Sumber air untuk operasi water bombing juga relatif lebih dekat dibandingkan penanganan karhutla pada 2023. Saat ini air dapat diambil dari Ranupani, sedangkan pada penanganan sebelumnya helikopter mengambil air dari kawasan Kaliandra maupun Batu.
“Harapannya dari Ranupani ini bisa lebih dekat. Mudah-mudahan besok anginnya landai, kemudian mengambil airnya dari Ranupani, dua heli water bombing bisa maksimal pemadaman. Mudah-mudahan bisa segera padam semua,” tuturnya.
Baca Juga:Karhutla TNBTS Meluas, Kondisi Habitat Satwa Endemik Terancam
Dugaan Awal Faktor Manusia
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja mengatakan, dugaan awal kebakaran mengarah pada aktivitas manusia. Namun, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kebakaran.
Menurut Rudijanta, titik awal api berada di kawasan puncak tebing yang terdapat jalur tradisional penghubung Desa Arjosari dan Desa Ranupani.
“Kalau dari dugaan ada kemungkinan itu faktor manusia, jadi bukan faktor alam, karena jalur di atas awal api itu ada di puncak tebing. Ada jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjosari dan Desa Ranupani. Sepertinya tidak ada unsur sengaja kalau menurut kami,” ungkapnya.
Meski penyebab kebakaran masih diselidiki, fokus utama tim saat ini adalah mencegah api semakin meluas dan mengendalikan seluruh titik api.
Baca Juga:Bromo Membara di Blok Bantengan: Jalur Jemplang-Senduro Ditutup
“Saat ini kami masih fokus pada upaya pemadaman. Namun, penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran akan terus kami lakukan,” pungkas Rudijanta.