Wakos Reza Gautama
Kamis, 21 Mei 2026 | 14:03 WIB
Diah Puspasari, adik Herman Budianto, relawan asal Ponorogo yang ditahan militer Israel. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Herman Budianto asal Ponorogo ditahan militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza pada Mei 2026.
  • Relawan sengaja membuang ponsel ke laut sebelum ditangkap untuk melindungi data aktivitas kemanusiaan dari penyalahgunaan pihak militer Israel.
  • Keluarga mendesak pemerintah Indonesia melakukan langkah diplomatik tegas guna menjamin keselamatan dan memulangkan Herman dari penahanan tersebut.

SuaraJatim.id - Herman Budianto, warga Ponorogo, Jawa Timur, merupakan salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan oleh militer Israel saat menjalankan misi kemanusiaan bersama koalisi internasional.

Herman tergabung dalam kapal Global Sumud Flotilla 2.0, sebuah misi berisiko tinggi yang membawa bantuan medis dan pangan untuk warga Palestina yang terkepung di Gaza.

Detik-detik sebelum komunikasi terputus total pada 19 Mei 2026, sebuah peristiwa dramatis terekam di layar ponsel keluarganya.

Melalui fitur Instagram Live, Herman sempat menunjukkan situasi di atas kapal. Namun, siaran itu janggal. Tidak ada suara, hanya visual yang memperlihatkan ketegangan saat armada militer Israel mulai membayangi kapal mereka.

Keluarga menduga, siaran bisu itu adalah pesan terakhir Herman agar dunia melihat apa yang sedang terjadi. Tak lama setelah itu, muncul informasi bahwa para relawan sengaja membuang telepon genggam mereka ke kedalaman laut.

Strategi ini diduga dilakukan agar data dan jejak aktivitas kemanusiaan mereka tidak disalahgunakan atau dilacak oleh pihak penahan.

"Sempat live di IG, tapi kemarin itu tidak ada suaranya. Kayaknya pas mau ditangkap sengaja live. Setelah itu HP dibuang ke laut untuk tidak meninggalkan jejak," ungkap adik kandung Herman, Diah Puspasari, Kamis (21/5/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Diah bercerita, keluarga awalnya tidak menyangka bahwa Herman akan terjun ke misi berbahaya tersebut. Herman memang sering ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, namun kali ini ia hanya berpamitan secara singkat di grup WhatsApp keluarga saat sudah berada di Turki.

"Kami kaget, ternyata dari Turki beliau ikut rombongan itu (Flotilla). Beliau itu memang dari dulu aktivis, sejak SMP dan SMA. Orangnya santun, mandiri, bahkan kuliah pun biaya sendiri," kenang Diah.

Baca Juga: Kasur dan Tisu Jadi Saksi Bisu Kasus Asusila: Polisi Geledah Ponpes di Ponorogo

Bagi keluarga, keberangkatan Herman murni panggilan jiwa. Tidak ada bendera politik atau kepentingan negara di belakangnya.

"Keberangkatan mereka benar-benar karena kemanusiaan. Mereka ingin mengingatkan dunia bahwa Palestina belum merdeka," tambahnya.

Kini, rumah keluarga Herman di Ponorogo dipenuhi doa. Komunikasi yang terputus total membuat setiap detik terasa sangat panjang.

Mereka hanya bisa memantau perkembangan berita internasional sembari berharap pada ketegasan pemerintah Indonesia.

Harapan besar digantungkan pada pundak Kementerian Luar Negeri agar segera mengambil langkah diplomatik tingkat tinggi.

Keluarga meminta pemerintah menjamin keselamatan dan memulangkan Herman serta relawan WNI lainnya dari tangan militer Israel.

Load More