Wakos Reza Gautama
Selasa, 21 Juli 2026 | 08:39 WIB
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya memindahkan 115 orang warga binaan kategori berisiko tinggi (high risk) ke sejumlah lapas di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Ditjenpas memindahkan 115 narapidana berisiko tinggi dari Lapas Kelas I Surabaya menuju Nusakambangan pada Minggu, 19 Juli 2026.
  • Proses pemindahan ini melibatkan pengawalan ketat personel Brimob demi menjaga keamanan serta sterilisasi wilayah selama perjalanan berlangsung.
  • Langkah strategis tersebut dilakukan untuk menempatkan napi di fasilitas super maximum security guna meningkatkan efektivitas pembinaan berkelanjutan.

SuaraJatim.id - Di bawah kawalan berlapis personel Brimob bersenjata lengkap, sebanyak 115 warga binaan Lapas Kelas I Surabaya kategori risiko tinggi (high risk) meninggalkan sel mereka menuju Pulau Nusakambangan.

Pemindahan besar-besaran yang dilakukan pada Minggu (19/7/2026) malam ini merupakan langkah strategis Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) untuk mensterilkan wilayah dan memastikan narapidana dengan tingkat risiko keamanan tinggi berada di tempat yang paling tepat.

Para napi yang dipindahkan mencakup 36 warga binaan asal Jawa Timur dan 79 orang kiriman dari Sulawesi. Semuanya masuk dalam daftar hitam kategori high risk yang memerlukan pengawasan ekstra ketat.

Kepala Kanwil Kemenkumham Jatim, Kusnali, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari manajemen risiko. Nusakambangan, dianggap sebagai tempat paling ideal bagi para penghuni yang sulit diatur.

"Pemindahan ini tidak hanya soal keamanan. Ini adalah strategi pembinaan berkelanjutan. Kami menempatkan mereka sesuai dengan tingkat risikonya agar proses pembinaan lebih efektif dan lingkungan lapas tetap kondusif," ujar Kusnali.

Memindahkan 115 orang berisiko tinggi bukanlah perkara mudah. Operasi ini melibatkan koordinasi tingkat tinggi antara Tim Pengamanan Intelijen Ditjenpas, personel Brigade Mobil (Brimob) Polri, hingga jajaran petugas Lapas Surabaya sendiri.

Sepanjang perjalanan, setiap gerak-gerik narapidana dipantau ketat. Tidak ada ruang bagi celah keamanan. Infrastruktur di Nusakambangan yang dirancang dengan sistem super maximum security memang dipersiapkan khusus untuk menangani warga binaan yang membutuhkan penanganan luar biasa, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sistem pengamanannya.

Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, memberikan sinyal keras kepada seluruh warga binaan yang masih berada di Surabaya. Pemindahan ini adalah bentuk konsekuensi nyata bagi siapa saja yang berani bermain-main dengan aturan.

"Kami tidak akan ragu menindak tegas warga binaan yang melanggar disiplin atau mencoba mengganggu ketertiban. Pilihannya jelas: ikuti pembinaan dengan baik, atau menyusul ke Nusakambangan," tegas Rachman. (ANTARA)

Baca Juga: Gagal Total! Aksi Nekat Pengunjung Lapas Porong Sembunyikan Ekstasi di Dalam Mulut

Load More