Transformasi tersebut mencakup penerapan teknologi budidaya modern, mekanisasi pertanian, efisiensi irigasi, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas industri gula agar semakin kompetitif dan berdaya saing.
Khofifah juga mengungkapkan bahwa Kabupaten Malang memiliki pengalaman historis yang membuktikan tingginya produktivitas tebu. Di Kecamatan Gondanglegi, produktivitas tebu pernah mencapai sekitar 250 ton per hektare.
Menurut Khofifah, capaian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tebu dapat dicapai melalui kombinasi penggunaan varietas unggul, dukungan teknologi, penguatan riset, serta kolaborasi antara petani, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah.
"Dengan dukungan teknologi yang semakin maju, laboratorium yang semakin canggih, dukungan perguruan tinggi dan Kementerian Pertanian, saya rasa bukan sesuatu yang mustahil jika produktivitas tebu dapat terus kita tingkatkan. Gondanglegi pernah membuktikannya," kata Khofifah.
Baca Juga:Lepas Kloter Terakhir Embarkasi Surabaya, Khofifah Pesankan Jamaah Jaga Kesehatan
Namun demikian, keberhasilan sektor pergulaan Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan inovasi, melainkan juga oleh kerja keras para petani yang selama ini menjadi ujung tombak pengembangan perkebunan tebu.
Menurutnya, keberhasilan sektor pergulaan Jawa Timur tidak terlepas dari sinergi pemerintah pusat dan daerah, pabrik gula, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga keuangan, penyuluh pertanian, serta para petani yang terus menjaga produktivitas lahan tebu.
"Keberhasilan tersebut tentu tidak diraih secara instan. Di balik capaian itu terdapat kerja keras para petani tebu, dukungan pabrik gula, pemerintah pusat dan daerah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga keuangan, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus bersinergi memperkuat sektor pergulaan dari hulu hingga hilir," tegasnya.
Lebih lanjut, Khofifah menegaskan bahwa target utama berbagai program pengembangan tebu tersebut adalah terwujudnya swasembada gula konsumsi nasional.
Karena itu, pembangunan sektor pergulaan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai peningkatan produktivitas di tingkat petani hingga penguatan tata niaga dan perlindungan pasar gula nasional.
Baca Juga:Buka Pameran Surabaya Hospital Expo XX 2026, Khofiah Dorong RS di Jatim Adaptif Terhadap AI
Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan agar gula rafinasi tidak merembes ke pasar konsumsi yang menjadi ruang bagi gula produksi petani.
"Kita membangun ekosistem pergulaan dari hulu sampai hilir. Produksi petani harus terlindungi sehingga mereka mendapatkan kepastian pasar yang sehat," ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat transformasi sektor tebu melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi budidaya modern, mekanisasi pertanian, efisiensi irigasi, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas industri pengolahan gula agar semakin kompetitif dan berdaya saing tinggi.
Khofifah juga menyoroti peran strategis Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra tebu terbesar di Jawa Timur. Dengan luas areal tebu sekitar 41 ribu hektare yang didukung keberadaan PG Krebet Baru dan PG Kebon Agung, Kabupaten Malang dinilai memiliki posisi penting dalam pengembangan industri gula nasional.
"Ini merupakan kekuatan strategis yang harus terus kita dorong agar Kabupaten Malang semakin menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri gula nasional," ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata kepada petani, Pemprov Jawa Timur menyerahkan berbagai bantuan alat dan mesin pertanian, sarana produksi perkebunan, serta bantuan pemberdayaan ekonomi kepada kelompok tani di Kabupaten Malang.