- Perawat Miftahul Khoir melaporkan kepala desa berinisial S ke Polres Bangkalan atas dugaan penganiayaan pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
- Korban menyerahkan bukti visum mandiri dan rekaman CCTV yang menunjukkan luka lebam akibat kemarahan pelaku terkait ketersediaan obat salep.
- Akibat insiden kekerasan tersebut, korban mengalami trauma psikologis mendalam dan saat ini sedang mendapatkan pendampingan khusus dari tenaga kesehatan.
SuaraJatim.id - Seorang perawat bernama Miftahul Khoir melaporkan seorang kepala desa berinisial S ke Polres Bangkalan atas dugaan penganiayaan di Puskesmas Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, Sabtu (24/10/2026).
Dalam laporan tersebut, korban melalui kuasa hukumnya turut menyerahkan rekaman kamera pengawas atau CCTV yang disebut merekam insiden di dalam puskesmas.
Kuasa hukum korban, Muhammad Zaini, mengatakan laporan tersebut disertai sejumlah bukti awal, termasuk hasil visum untuk mendukung dugaan kekerasan yang dialami kliennya. Korban disebut mengalami lebam di bagian dada kiri dan bahu.
“Sementara untuk bukti awal, kami telah melakukan visum secara mandiri di Puskesmas Kwanyar,” kata Zaini melansir Beritajatim--jaringan Suara.com, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga:Gara-gara Tebus Motor, Menantu di Bangkalan Tega Aniaya Ibu Mertua yang Renta
Selain hasil visum, rekaman CCTV juga diserahkan kepada penyidik untuk membantu proses penyelidikan. Menurut Zaini, rekaman tersebut diduga memperlihatkan peristiwa kekerasan yang dialami kliennya.
“Ada bukti rekaman CCTV saat korban mengalami kekerasan,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan korban melalui kuasa hukumnya, peristiwa tersebut diduga bermula saat S meminta salep Bufacort setelah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Kwanyar. Namun, obat oles yang diminta disebut tidak tersedia di ruang obat.
Situasi kemudian memanas. S diduga meluapkan kemarahan, melontarkan kata-kata kasar, hingga melakukan pemukulan terhadap Miftahul Khoir. Insiden tersebut disebut menyebabkan lebam di bagian dada kiri dan bahu korban.
Terduga pelaku juga dikabarkan sempat melontarkan ancaman ketika berada di puskesmas. Peristiwa itu kemudian dilerai sebelum S meninggalkan lokasi.
Baca Juga:Bogem Mentah Eks Atlet Kickboxing: Saat Satpam RS Graha Sehat Hajar Perawat Tanpa Ampun
Seluruh rangkaian kejadian tersebut masih perlu didalami melalui proses penyelidikan kepolisian, termasuk dengan memeriksa rekaman CCTV dan keterangan para saksi.
Korban Disebut Trauma dan Ketakutan
Zaini mengatakan dugaan penganiayaan tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi fisik korban, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologisnya. Korban disebut mengalami trauma dan ketakutan, salah satunya karena terduga pelaku merupakan seorang kepala desa.
“Untuk korban mengalami trauma dan merasa takut karena pelaku merupakan oknum kepala desa. Bahkan sampai hari ini korban terus didampingi oleh tenaga kesehatan di lingkungan puskesmas agar korban tidak takut,” jelas Zaini.
Menurut dia, pendampingan dilakukan agar korban merasa lebih aman saat kembali menjalankan aktivitasnya di lingkungan puskesmas.
Zaini menambahkan, hingga Selasa (27/10/2026), belum ada komunikasi dari pihak terduga pelaku untuk meminta maaf kepada kliennya. Korban pun memilih menempuh jalur hukum agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.