Ronald Seger Prabowo
Kamis, 05 November 2026 | 15:51 WIB
Ilustrasi-Warga Negara Indonesia (WNI) nyaris direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia. [Suara.com/Syahda]
Baca 10 detik
  • Pria asal Tulungagung berinisial SA batal berangkat menjadi tentara bayaran di Rusia setelah curiga bonus janjinya tidak diberikan.
  • SA menemukan tawaran bergaji besar di Instagram dan diarahkan berangkat ke Turki menggunakan dokumen wisata oleh agensi.
  • Korban meminta perlindungan kepada Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia sebelum akhirnya dipulangkan kembali ke keluarganya.

SuaraJatim.id - Iming-iming gaji Rp40 juta per bulan dan bonus kontrak Rp400 juta hampir membawa seorang pria asal Tulungagung, Jawa Timur, ke medan perang di Rusia.

Beruntung, calon pekerja migran berinisial SA (36) itu mulai curiga setelah uang bonus yang dijanjikan perekrut tak kunjung diberikan. Ia pun membatalkan keberangkatannya dan kini telah kembali berkumpul bersama keluarganya dan tak berakhir mati sia-sia.

SA sebelumnya tergiur tawaran pekerjaan sebagai tentara bayaran di Rusia yang ditemukan melalui iklan media sosial Instagram. Dalam tawaran tersebut, perekrut menjanjikan kontrak kerja selama satu tahun dengan peluang perpanjangan, gaji puluhan juta rupiah setiap bulan, serta bonus kontrak mencapai Rp400 juta.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Tulungagung, Muhamad Ardian Candra, mengatakan pihaknya mengetahui kasus tersebut setelah menerima informasi pemulangan SA melalui media sosial. Petugas kemudian melakukan penelusuran dan memastikan kondisi korban setelah kembali ke kampung halaman.

"SA menemukan iklan di media sosial Instagram, katanya kontraknya satu tahun dan dapat diperpanjang," ujar Candra melansir Beritajatim--jaringan Suara.com, Kamis (5/11/2026).

Setelah tertarik dengan tawaran tersebut, SA menghubungi nomor kontak yang tercantum dalam iklan. Ia kemudian diarahkan untuk mengurus sendiri dokumen perjalanan, termasuk paspor dan visa.

Namun, ada hal mencurigakan dalam proses perekrutan itu. SA justru diminta mengurus dokumen perjalanan sebagai wisatawan dengan tujuan Turki, bukan menggunakan jalur resmi sebagai pekerja migran.

"SA ini diminta untuk mengurus dokumen sebagai turis dengan tujuan Turki. Sepertinya ini untuk mengelabuhi petugas agar tidak curiga," tutur Candra.

Setelah seluruh dokumen perjalanan selesai, SA berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Rencananya, ia akan terbang ke Turki dan dijemput oleh pihak agensi yang merekrutnya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Rusia.

Baca Juga: 8 Tahun Dibui, Eks Bupati Tulungagung Syahri Mulyo Bebas Bersyarat Hari Ini

Namun, menjelang keberangkatan, SA mulai mempertanyakan keseriusan perekrut. Ia meminta kejelasan mengenai bonus kontrak Rp400 juta yang sebelumnya dijanjikan. Bahkan, SA meminta agar sebagian uang tersebut dikirim lebih dahulu untuk diberikan kepada istrinya.

Permintaan itu ternyata tidak mendapat respons dari pihak agensi. Bonus besar yang menjadi salah satu daya tarik pekerjaan tersebut tak kunjung diberikan.

"Ternyata narahubung itu tidak memenuhi uang bonus yang dijanjikan dalam iklan. Nah, akhirnya SA ini mulai ragu dan memilih membatalkan penerbangan," imbuh Candra.

Keputusan membatalkan keberangkatan tersebut menjadi titik penting bagi SA. Ia kemudian meminta perlindungan kepada petugas Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Setelah mendapat penanganan, SA akhirnya dipulangkan ke Tulungagung.

Candra memastikan petugas Disnakertrans telah bertemu langsung dengan SA di wilayah Kecamatan Kedungwaru. Kondisi pria tersebut dilaporkan baik dan kini sudah kembali bersama keluarganya.

"Petugas kami sudah bertemu dengan SA di Kedungwaru. Untuk kondisinya baik-baik saja," terangnya.

Load More