Kisah Amira, Korban Ambruknya Atap SD yang Selalu Bersemangat Sekolah

Chandra Iswinarno
Kisah Amira, Korban Ambruknya Atap SD yang Selalu Bersemangat Sekolah
Ayah kandung korban Atap SD Ambruk, Jubair memegang foto almarhum anaknya Irza Amira. [Suara.com/Arry Saputra]

Amira sempat mengatakan jika tak sabar menunggu pagi untuk segera berangkat bersekolah dan bertemu teman-temannya belajar.

Suara.com - Insiden ambruknya atap SD Gentong di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur menyebabkan dua orang meninggal dunia. Salah satunya siswi bernama Irza Amira yang duduk dibangku kelas II dan berusia 8 tahun.

Ayah korban, Jubair (39) menceritakan bagaimana keseharian yang dilakukan oleh anaknya tersebut. Ia biasa memanggil anaknya dengan sebutan Amira.

Di mata Jubair, sosok Amira merupakan anak yang sangat rajin belajar dan tak suka bermain. Kesehariannya, ia gunakan untuk belajar dan membuat seni rupa di rumahnya.

"Anak saya seperti anak-anak yang lainnya, seperti biasa. Cuma anaknya itu enggak suka main, sepulang sekolah ya di rumah ngerjain PR atau buat-buat apa gitu kesenian. Sorenya mengaji TPQ, pukul 14.30 WIB sampai pukul 17.00 WIB baru pulang. Habis magrib salat jemaah," ungkap Jubair kepada Kontributor Suara.com, Rabu (6/11/2019).

"Enggak suka main anaknya. Sukanya buat-buat ini itu di rumah anaknya aktif, tapi kalau main enggak pernah," lanjutnya.

Bahkan, Jubair mengungkapkan, anak sulungnya itu sangat senang bersekolah. Anaknya sempat mengatakan jika tak sabar menunggu pagi untuk segera berangkat bersekolah dan bertemu teman-temannya belajar.

"Dia itu seneng banget belajar seneng sekolah, kadang kalau malam itu suka bilang kapan ya pagi aku mau sekolah, dia ceria. Anak saya ini paling tinggi dipanggil kakak. Anak saya belum berangkat biasa disamperin temennya menyusul berangkat bareng," jelasnya.

Kontributor : Arry Saputra

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS