Status Gunung Semeru Turun ke Level III, Ini Zona Merah yang Wajib Dihindari

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi secara resmi menurunkan status gunung setinggi 3.676 mdpl tersebut.

Andi Ahmad S
Minggu, 30 November 2025 | 14:36 WIB
Status Gunung Semeru Turun ke Level III, Ini Zona Merah yang Wajib Dihindari
Foto udara kondisi perkampungan terdampak timbunan material vulkanis di Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nz]
Baca 10 detik
  • Status Gunung Semeru di Lumajang resmi turun dari Level Awas menjadi Level Siaga per 29 November 2025, membawa kelegaan bagi warga sekitar. 

  • Penurunan status ini didasarkan pada data ilmiah PVMBG yang menunjukkan penurunan tekanan perut bumi dan fase relaksasi sistem vulkanik.

  • Meskipun turun status, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 13 km di sektor Besuk Kobokan dan 5 km dari puncak karena bahaya APG dan lahar dingin.

SuaraJatim.id - Angin segar akhirnya berhembus dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Setelah sempat membuat cemas dengan aktivitas vulkaniknya yang tinggi, Gunung Semeru kini menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi secara resmi menurunkan status gunung setinggi 3.676 mdpl tersebut.

Penurunan status ini menjadi kabar yang melegakan, tidak hanya bagi warga yang bermukim di kaki gunung, tetapi juga bagi komunitas pendaki dan pecinta alam yang selalu memantau kondisi Mahameru.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengonfirmasi perubahan status tersebut melalui keterangan tertulisnya.

Baca Juga:Status Tanggap Darurat Erupsi Semeru Diperpanjang, Perlindungan Warga Prioritas Utama!

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi maka maka terhitung dari tanggal 29 November 2025 pukul 09.00 WIB, tingkat aktivitas Gunung Semeru diturunkan dari Level Awas menjadi Siaga," kata Lana Saria, dilansir dari Antara.

Keputusan penurunan level ini bukan diambil sembarangan, melainkan berdasarkan data ilmiah yang akurat. Sejak tanggal 19 November 2025, instrumen pemantauan merekam adanya penurunan tekanan dari dalam perut bumi. Aktivitas yang terjadi belakangan ini didominasi oleh proses permukaan, bukan karena dorongan energi baru yang besar.

"Parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) sempat mengalami penurunan menjelang kejadian awan panas 19 November 2025 dan kemudian cenderung kembali stabil, menandakan bahwa sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami pressurisasi," jelas Lana.

Meskipun statusnya turun, bukan berarti Semeru tidur pulas. Secara visual, aktivitas vulkanik masih terlihat jelas oleh mata telanjang. Kolom asap putih hingga kelabu masih menyembur dengan ketinggian variatif antara 300 hingga 1.000 meter dari puncak.

"Secara visual, teramati letusan berulang berskala kecil–menengah dengan kolom asap putih–kelabu setinggi 300–1.000 meter. Guguran lava teramati dengan jarak luncur 800–1000 meter ke Besuk Kobokan," tuturnya.

Baca Juga:Pemkab Lumajang Hentikan Semua Aktivitas Tambang Pasir, Gunung Semeru Berstatus Awas!

Lana menambahkan bahwa tidak adanya anomali signifikan pada data pemantauan menyimpulkan bahwa aktivitas saat ini lebih kepada pelepasan gas dangkal dan ketidakstabilan lereng sisa material erupsi sebelumnya.

Bagi Sobat Medcom dan para petualang, penurunan status ke Level III (Siaga) bukan berarti jalur pendakian dibuka bebas atau area sungai aman untuk dikunjungi. Ancaman Awan Panas Guguran (APG) dan banjir lahar dingin masih sangat nyata, terutama mengingat curah hujan yang mulai meningkat di akhir tahun.

Badan Geologi menetapkan aturan ketat yang wajib dipatuhi demi keselamatan nyawa:

1. Sektor Tenggara (Besuk Kobokan)

Dilarang melakukan aktivitas apapun sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi). Ini adalah jalur utama luncuran awan panas.

2. Sempadan Sungai

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak